Ulama Organik
Ulama organik. Istilah yang tiba-tiba mencuat di kalangan mahasiswa PKU-MI. Awalnya, istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Kurdi, salah satu awardee LPDP dari Pekalongan. Sosok pria yang misterius tersebut kembali menyinggung istilah tersebut di hadapan para pimpinan PKU-MI di sela-sela acara kuliah perdana di Istiqlal. Spontan respon para hadirin gemuruh. Tak terkecuali, Imam Besar Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA., mengapresiasi istilah tersebut. Unik dan berkarakter.
Kata organik sendiri lebih populer dengan makanan, pupuk dan sampah. Misalnya, makanan organik. Makanan yang diolah secara konvensional. Tidak memiliki zat kimiawi. Begitu pun dengan pupuk organik. Pupuk yang memaksimalkan bahan-bahan non kimiawi sebagai bahan dasar. Pun demikian dengan sampah organik. Sampah yang bisa diolah menjadi pupuk kompos. Ke semuanya mencerminkan nilai keaslian dan ramah lingkungan.
Dalam konteks ulama, kata organik setidaknya mencerminkan dua karakter di atas. Pertama, keaslian (genuine). Ulama organik adalah kader yang lahir dari rahim lembaga pendidikan keagamaan yang khas. Melewati proses panjang dan penuh tantangan. Hasil tempaan yang bertahun-tahun. Ulama organik bukan produk instan. Tanpa sanad dan jejak pendidikan. Ulama organik meniscayakan silsilah keilmuan yang jelas. Memiliki kemampuan melacak jejak peradaban masa lalu. Meramu khazanah keilmuan ulama klasik. Serta mendiskusikan dan mengkontekstualisasikan dengan kenyataan masa kini.
Kedua, ramah lingkungan. Ulama organik sejatinya sangat peka terhadap lingkungan. Memiliki sensitivitas tinggi terhadap persoalan sosial. Tidak hanya memikirkan dirinya. Ia selalu berpikir untuk kemaslahatan umum. Profil ini juga sering dibahasakan oleh Imam Besar Istiqlal sebagai karakter ulul albab. Selain itu, ramah lingkungan juga tercermin dari pemikiran dan pemahaman keagamaan toleran dan berkerahmatan. Perkataannya yang penuh cinta. Pandangannya yang penuh kasih sayang. Perilakunya penuh ibrah. Kebijakannya sangat humanis, berlandaskan nilai-nilai rabbani.
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia
Penulis






















