Ketika Berpikir Menjadi Kemewahan
George Bernard Shaw pernah melontarkan sebuah
sindiran yang hingga kini masih sering dikutip: “Hanya dua persen orang
yang benar-benar berpikir; tiga persen orang mengira bahwa mereka berpikir; dan
sembilan puluh lima persen sisanya lebih memilih mati daripada harus berpikir.”
Kutipan ini tentu bukan hasil penelitian ilmiah. Shaw sedang berkelakar
sekaligus mengkritik kecenderungan manusia yang sering lebih nyaman mengikuti
arus daripada menggunakan akal pikirnya secara mandiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, sindiran tersebut
terasa relevan. Tidak sedikit orang yang lebih suka menerima informasi apa
adanya, mengikuti pendapat yang sedang populer, atau mengulang pandangan orang
lain tanpa terlebih dahulu mengujinya secara kritis. Di era media sosial,
gejala ini bahkan semakin mudah ditemukan. Sebuah opini dapat menyebar luas
bukan karena kebenarannya, melainkan karena banyak orang mengulanginya secara
serempak.
Namun demikian, kutipan Shaw juga tidak boleh
dibaca secara berlebihan. Kita perlu berhati-hati agar tidak menjadikannya
sebagai alat untuk menghakimi setiap orang yang tampak pasif atau kurang
produktif secara intelektual. Tidak semua kepasifan lahir dari kemalasan
berpikir. Dalam banyak keadaan, kepasifan justru merupakan hasil dari berbagai
tekanan dan keterbatasan yang dihadapi seseorang.
Dalam dunia pendidikan, misalnya, sering muncul
keluhan bahwa sebagian guru atau dosen kurang inovatif dan kurang menghasilkan
gagasan-gagasan baru. Kritik semacam ini mungkin ada benarnya. Akan tetapi,
kita juga perlu melihat kenyataan yang mereka hadapi. Banyak tenaga pendidik
harus membagi perhatian antara tugas mengajar, penelitian, pengabdian kepada
masyarakat, serta berbagai kewajiban administratif yang terus bertambah. Waktu
yang seharusnya dapat digunakan untuk membaca, menulis, dan mengembangkan ide
sering kali habis untuk menyelesaikan pekerjaan rutin yang bersifat
administratif.
Hal yang sama dapat ditemukan pada mahasiswa.
Tidak semua mahasiswa yang terlihat pasif sedang mengalami kemalasan
intelektual. Sebagian harus berjuang menghadapi keterbatasan ekonomi, bekerja
sambil kuliah, atau beradaptasi dengan fasilitas belajar yang tidak selalu
memadai. Dalam situasi seperti itu, fokus utama mereka sering kali adalah
menyelesaikan persoalan hidup yang paling mendesak terlebih dahulu.
Tentu saja, kondisi sulit bukan berarti seseorang
kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis. Sejarah membuktikan bahwa banyak
pemikir besar lahir dari lingkungan yang penuh keterbatasan. Namun, kita juga
perlu mengakui bahwa tekanan ekonomi, beban pekerjaan, dan persoalan hidup
lainnya dapat mengurangi ruang, waktu, dan energi yang dibutuhkan untuk
melakukan refleksi mendalam. Berpikir bukan hanya soal kemampuan intelektual,
tetapi juga membutuhkan kesempatan dan kondisi yang memungkinkan seseorang mengembangkan
potensinya.
Karena itu, pesan penting dari kutipan Shaw
seharusnya bukanlah dorongan untuk merendahkan orang lain, melainkan ajakan
untuk terus menghidupkan budaya berpikir kritis dalam kehidupan bersama. Di
saat yang sama, kita juga perlu membangun lingkungan sosial dan institusional
yang mendukung lahirnya pemikiran-pemikiran berkualitas. Sebab, kemampuan
berpikir tidak tumbuh dalam ruang hampa; ia berkembang ketika manusia memiliki
kesempatan, dukungan, dan kebebasan untuk menggunakan nalarnya.
Pada akhirnya, kita memang perlu menghindari
kebiasaan mengikuti arus tanpa pertimbangan. Akan tetapi, kita juga perlu
memahami bahwa tidak semua orang yang tampak diam sedang berhenti berpikir, dan
tidak semua kepasifan merupakan tanda kemalasan. Kadang-kadang, di balik sikap
yang tampak pasif, terdapat beban kehidupan yang tidak terlihat oleh mata.
Maka, sebelum menghakimi seseorang sebagai tidak mau berpikir, mungkin yang
lebih bijak adalah memahami terlebih dahulu kondisi yang sedang ia hadapi.
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia






















