Tahun Baru Hijriyah dan Ilusi Kebangkitan
Oleh: Dr. H.
Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A.
Dosen Sirah Nabawiyah pada Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKU-MI)
Alumni Dai Go Global LD-PBNU 2025
Setiap tahun, obor dinyalakan.
Spanduk dibentangkan. Mimbar-mimbar dipenuhi ceramah tentang hijrah. Tahun Baru
Hijriyah datang seperti tamu lama yang selalu disambut dengan hangat. Tetapi,
ada satu pertanyaan yang jarang diajukan, setelah semua perayaan itu terlaksana,
apa yang sesungguhnya berubah?
Kita selalu menyaksikan perayaan
itu, dan kita sadar bahwa sejatinya waktu terus bergerak. Kalender berganti.
Namun, meski demikian, sering kali manusia tetap tinggal di tempat yang sama.
Barangkali, persoalan terbesar umat
Islam hari ini bukan karena kita kekurangan momentum untuk berubah. Justru
sebaliknya, kita terlalu kaya akan momentum, tetapi sayangnya kita miskin
transformasi. Kita memiliki Ramadan setiap tahun, Idul Fitri setiap tahun, Idul
Adha setiap tahun. Dan kini, Tahun Baru Hijriyah di depan mata. Tetapi,
lagi-lagi kita tidak berani untuk bercermin memandang kesalahan kita yang terus
berulang.
Muharram, sejatinya bukan sekadar
pergantian angka. Ia adalah undangan untuk meninjau kembali perjalanan sejarah
kita sebagai individu maupun sebagai bangsa.
Di sinilah pemikiran Muhammad Thahir
Ibn Asyur menjadi relevan. Dalam Ushul al-Nidham al-Ijtima'i fi al-Islam,
ia menegaskan bahwa reformasi sosial tidak mungkin lahir tanpa reformasi
individu. Masyarakat hanyalah kumpulan manusia. Jika manusia-manusianya rusak,
mustahil masyarakatnya sehat.
Jauh beberapa abad sebelumnya, Ibnu
Khaldun dalam karya monumentalnya, al-Ibar, yang dikenal juga sebagai Muqaddimah,
mengemukakan teori yang hingga kini masih dianggap sebagai salah satu fondasi
sosiologi modern. Ia menjelaskan
bahwa bangkit dan runtuhnya sebuah peradaban tidak terutama ditentukan oleh
kekayaan alam, luas wilayah, atau jumlah penduduk, melainkan oleh kualitas
moral dan solidaritas sosial yang disebutnya 'ashabiyah.
Menurut Ibnu
Khaldun, setiap peradaban lahir dari semangat kolektif yang kuat. Orang-orang
rela berkorban demi kepentingan bersama. Mereka bekerja keras, hidup sederhana,
dan memiliki tujuan yang melampaui kepentingan pribadi. Dari situlah akan lahir
kekuatan politik, kemajuan ekonomi, dan kejayaan ilmu pengetahuan.
Tetapi, ketika
kemewahan mulai menggantikan pengorbanan, ketika jabatan berubah menjadi alat
mencari keuntungan pribadi, dan ketika masyarakat kehilangan ikatan moral yang
menyatukan mereka, maka proses keruntuhan sesungguhnya telah dimulai, bahkan
ketika gedung-gedung megah masih berdiri.
Peradaban, kata
Ibnu Khaldun, sering kali mati bukan karena serangan dari luar, melainkan
karena pembusukan dari dalam. Kalimat itu terasa begitu aktual dan relevan
dengan keadaan dunia saat ini.
Dalam konteks Indonesia, negeri yang
memiliki jumlah Muslim terbesar di dunia. Masjid berdiri di hampir setiap sudut
kampung. Pesantren tumbuh dalam jumlah puluhan ribu. Pengajian memenuhi
ruang-ruang publik. Simbol-simbol agama hadir di mana-mana.
Namun, pada saat yang sama, korupsi
tetap menjadi berita harian. Kebohongan menemukan rumah yang nyaman di media
sosial. Kebencian diproduksi lebih cepat daripada pengetahuan. Kita rajin
berbicara tentang moralitas, tetapi sering gagal menjadikannya sebagai kebiasaan.
Ada paradoks yang mengatakan:
Kita semakin religius dalam
ekspresi, tetapi belum tentu semakin etis dalam tindakan. Mungkin, karena
selama ini kita terlalu sibuk memperbaiki dunia di luar diri kita, sementara
dunia di dalam diri sendiri dibiarkan berantakan.
Dalam perspektif Ibn Asyur, krisis
seperti ini berakar pada kegagalan reformasi individu. Dalam perspektif Ibnu
Khaldun, krisis yang sama merupakan gejala melemahnya 'ashabiyah atau
solidaritas sosial.
Keduanya sebenarnya berbicara
tentang hal yang sama dari sudut yang berbeda, kerusakan sosial selalu dimulai
dari kerusakan karakter.
Padahal, al-Qur'an telah merumuskan
hukum perubahan itu jauh sebelum teori-teori sosial modern lahir: "Sesungguhnya
Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang
ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat ini adalah akselerasi peradaban
yang dikemas dalam satu kalimat. Allah swt. menetapkan sunnah takwinyah yang
bersifat universal dan tidak dapat diintervensi oleh siapapun, perubahan
kolektif suatu bangsa hanya mungkin terjadi ketika individu-individu di
dalamnya memulai perubahan dari dalam dirinya sendiri. Ini bukan ancaman,
melainkan janji ilahi tentang mekanisme peradaban manusia.
Tetapi, zaman modern seolah-olah mengajukan
sanggahan.
Bukankah banyak orang baik justru
terjebak dalam sistem yang buruk? Bukankah banyak individu sering menjadi
korban struktur? Bukankah kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan tidak
selalu lahir dari kelemahan karakter?
Mungkin, Pertanyaan-pertanyaan itu ada
benarnya.
Karena itu, Ibn Asyur menawarkan
sintesis yang menarik. Ia tidak mempertentangkan antara reformasi individu dan
reformasi sosial-struktural. Ia melihat keduanya sebagai dua sisi dari satu
koin yang sama. Sintesisnya adalah, reformasi individu adalah syarat perlu (necessary
condition), dan reformasi struktural adalah syarat cukup (sufficient
condition). Keduanya harus berjalan beriringan dalam strategi yang ia sebut
sebagai al-islah al-mutakamil — reformasi yang saling melengkapi dan saling
memperkuat antara level individu dan level sosial-struktural. Dan, Indonesia
membutuhkan keduanya.
Kita membutuhkan pendidik yang tidak
hanya menghasilkan manusia pintar, tetapi juga manusia jujur. Kita membutuhkan
birokrasi yang tidak hanya efisien, tetapi juga berintegritas. Kita membutuhkan
pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara tentang nilai, tetapi bersedia
menjadi teladan nilai itu sendiri.
Ibnu Khaldun menyebut proses ini
sebagai upaya memperkuat kembali 'ashabiyah kebangsaan. Sebab bangsa
yang kehilangan rasa kebersamaan akan sulit mempertahankan peradabannya,
betapapun melimpah sumber daya yang dimilikinya. Karena, peradaban tidak runtuh
dalam satu malam. Ia juga tidak bangkit dalam satu pidato.
Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan
sederhana yang dilakukan terus-menerus. Seorang pegawai yang menolak suap,
seorang guru yang mengajar dengan sungguh-sungguh, seorang ayah yang berlaku
adil kepada anak-anaknya, seorang pemuda yang memilih membaca daripada
menyebarkan fitnah atau hoaks.
Kita sering membayangkan kebangkitan
sebagai sesuatu yang megah: gedung-gedung tinggi, kekuatan ekonomi, atau
pengaruh politik global. Padahal, sejarah Islam memberikan kita gambaran yang
berbeda. Baghdad, Cordoba, Persia, dan Kairo tidak menjadi pusat peradaban
karena kekayaan semata. Mereka menjadi besar karena ilmu dihormati, integritas
dijaga, dan kepentingan umum ditempatkan di atas kepentingan pribadi.
Maka, ketika Muharram datang,
mungkin yang paling penting bukanlah berapa banyak obor yang kita nyalakan di
jalan-jalan. Bukan pula seberapa megah perayaan Muharram digelar. Tetapi,
seberapa besar keinginan dari dalam diri kita masing-masing untuk menciptakan
perubahan. Dari yang kurang baik menjadi baik. Dari baik menjadi lebih baik.
Perubahan yang dimaksud adalah
perubahan individu yang berusaha berlaku jujur dan adil serta memiliki
integritas, dan perubahan sosial yang menciptakan kerukunan dan keharmonisan di
tengah masyarakat sehingga solidaritas sosial terjalin, dan dengan itu, peradaban
berkeadaban yang kita dambakan bersama dapat terealisasi.
Karena sejatinya, pergantian tahun
tidak pernah menjamin perubahan manusia. Yang mengubah manusia bukan waktu. Melainkan,
keberanian untuk mengevaluasi diri sebelum sejarah melakukannya atas nama kita.
Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk
perayaan Tahun Baru Hijriyah, inilah pelajaran terbesar yang diwariskan Ibn
Asyur dan Ibnu Khaldun kepada kita, bahwa kebangkitan peradaban tidak dimulai
dari istana, tidak pula dari slogan-slogan besar. Ia dimulai dari manusia yang mau memperbaiki dirinya,
lalu membangun solidaritas sosial yang melampaui kepentingan dirinya.
Sebab, bangsa yang besar bukanlah
bangsa yang paling sering memperingati hari bersejarah. Melainkan, bangsa yang mampu belajar dari peristiwa
sejarah.
Bila setiap
perayaan Tahun Baru hanya dirayakan sebagai momentum biasa, tanpa adanya
perubahan individu dan kesadaran kolektif, maka, kebangkitan peradaban yang
diidamkan dan diimpikan hanyalah ilusi belaka.
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia






















