AI DALAM PENDIDIKAN UNTUK KEBIJAKAN BUKAN PEMBODOHAN


     Di zaman teknologi yang semakin canggih, banyak negara-negara yang berlomba untuk mempelajari dan mengembangkan kecerdasan buatan atau yang lebih dikenal dengan AI (Artificial Intelligence). 

       Terutama di negara Indonesia juga berusaha untuk mempelajari AI, sehingga banyak pelajar dan pengajar menerapkannya di lingkungan sekolah maupun di lingkungan kampus. Hal ini dapat membawa dampak positif dan negatif terhadap proses pembelajaran para siswa dan mahasiswa. 

       Jika AI digunakan secara bijak, maka akan membawa perubahan pada dampak yang positif, seperti membantu seorang guru dalam menerapkan metode pembelajaran, agar lebih mudah untuk dipahami dan mengembangkan potensi peserta didik tanpa harus menghilangkan pemikiran kritis dan usahanya mereka untuk belajar dengan sungguh-sungguh.

     Tetapi jika AI sampai disalahgunakan, maka akan membawa pada dampak yang negatif, seperti peserta didik mengerjakan tugas dari gurunya dan meminta bantuan kepada chat GPT untuk menjawab soal-soalnya tanpa ada pemikiran yang kritis dan pemahaman terhadap teori yang sudah disampaikan oleh guru. Sehingga, hal ini akan menumbuhkan rasa ketergantungan kepada AI serta membawa peserta didik menjadi tidak percaya diri terhadap potensi-potensi yang terpendam dalam dirinya.

   Hal ini seperti yang diriset oleh UNESCO ( 2021 ) bahwa ia menekankan pentingnya literasi digital dan etika AI dalam pendidikan untuk mencegah terjadinya ketergantungan pasif terhadap teknologi kecerdasan buatan, sebab AI sering digunakan sebagai mesin jawaban, bukan sebagai mitra dalam proses pembelajaran.

        Ketika peserta didik menerima hasil dari AI begitu saja, tanpa menelaah yang terkandung dalam isinya, maka proses belajar yang seharusnya membentuk suatu nalar dan mindset, justru berubah menjadi menyalin dan menempel tanpa memahami teori yang sudah dipelajari. Sebab manusia menginginkan hasil yang instan tanpa adanya proses, karena hal ini dipengaruhi oleh kurangmya dopamine detox terhadap proses belajar.

         Tapi realitanya, tidak ada hasil yang baik tanpa adanya proses yang panjang dan disertsi dengsn kesabaran. Seperti yang dikutip dalam kitab Ta’lim Muta’allim bahwa tidak akan pernah memperoleh ilmu kecuali dengan memenuhi enam syarat dan salah satunya yaitu sabar serta waktu yang panjang. Jadi, ketika menuntut ilmu pasti membutuhkan waktu yang panjang, artinya proses yang dijalani tidaklah instan, tapi penuh dengan naik turun dalam setiap perjalanannya, sehingga membutuhkan yang namanya kesabaran untuk menguatkan, agar tidak menyimpang dari jalan kebenaran.

      Kejadian ini akan sulit terjadi, jika peserta didik tidak mempunyai kemauan untuk berusaha. Meski sehebat apapun pengajarnya, sebagus apapun tempat pendidikannya, dan selengkap apapun fasilitasnya, tapi jika peserta didik tidak mempunyai keinginan, maka tidak akan pernah berhasil.

      Oleh karena itu, peran guru sangat penting untuk mendidik, membimbing, memahami, serta menjadi suri tauladan yang baik bagi peserta didiknya. Penelitian yang dilakukan oleh Holmes ( 2019 ) menerangkan bahwa AI tidak akan pernah bisa menggantikan peran seorang guru, karena hanya manusia yang dapat membimbing proses pembelajaran, diskusi, evaluasi, serta pengembangan karakter yang baik.

         Setiap berjalannya waktu membuat zaman terus berubah, sehingga cara peserta didik belajar, bermain, dan mengenal dunia menjadi ikut berubah. Rasulullah juga tidak pernah membatasi umatnya untuk maju dan berkembang mengikuti arus zaman, asalkan tetap berada di jalur yang benar dan tidak menyimpang dari ajaran serta syari’at Islam. Justru beliau mengajarkan cara untuk memilah, mana yang baik dan mana buruk antara haq dan yang batil serta menjadi kompas di tengah arus perubahan.

  Tidak hanya peran guru yang dibutuhkan, tapi peran kedua orang tua juga sangat dibutuhkan dalam pembentukan karakter seorang anak, terutama ibu yang merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya, maka membutuhkan sebuah metode dengan pendampingan yang tepat. Hal itu akan menjadikan sebuah dukungan bagi anak untuk berpotensi tumbuh menjadi digital native yang bijak. 

     Sebab pendidikan membutuhkan dua sayap, yaitu sekolah dan rumah. Jadi, guru dan orang tua harus menjadi mitra yang saling melengkapi. Sehingga dari hasil kerja sama itulah yang akan membawa pada kesatuan yg utuh untuk mencegah kebodohan yang dialami generasi dan membimbingnya pada sebuah kebijakan dalam menggunakan teknologi.


Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia


Bagikan :
Penulis
Foto User
Siti Sarah

(siti121004@gmail.com)

Ad