Tidak ada kekerasan dalam Agama
Kita masih sering
melihat dan mendengar ada orang memaksakan kehendak atas nama agama. Khusus
dalam agama Islam tidak bisa dibenarkan seseorang memaksakan kehendaknya
terutama untuk mengajak orang lain beragama Islam. Allah Swt dengan tegas
mengatakan: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)/Q.S.
al-Baqarah/2:256).
Urusan keyakinan dan keimanan adalah urusan dan hak prerogatif
Allah Swt, sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur'an: Sesungguhnya kamu tidak akan
dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi
petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, (Q.S. al-Qashash/28:56). Kita hanya
berkewajiban menyampaikan kebenaran dan isi ajaran agama itu. Urusan diterima
atau ditolak itu adalah urusan Allah SWT.
Di dalam melaksanakan
dakwah pun kita harus menggunakan cara-cara bijaksana dan sama sekali tidak
dibenarkan menggunakan cara-cara kekerasan, sebagaimana ditegaskan dalam ayat:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang
lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang
lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. al-Nahl/16:125).
Pengalaman Nabi Nuh As, yang berusaha memaksa anaknya untuk naik
di atas perahu kebenaran yang dikendalikannya, namun Allah Swt menegur Nabi Nuh
agar tidak memaksa orang walaupun itu anak kandungnya sendiri, sebagaimana
dikatakan dalam ayat: Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya
Tuhanku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji
Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya. Allah
berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang
dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak
baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak
mengetahui (hakikat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan
termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." (Q.S. Nuh/11:45).
Berdakwah adalah mulia, apalagi jika dakwah itu menghasilakan
banyak orang tertarik masuk dan mengikuti agama Allah Swt, namun lebih dari
itu, Allah Swt meminta kita untuk bersabar agar sebaik apapun sebuah tujuan
tidak boleh menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan itu. Sebetulnya
bukan hanya kekerasan, tetapi menanam kebencian kepada orang lain yang kemudian
menyebabkan lahirnya pendhaliman terhadap orang itu juga dilarang sebagaimana
firman Allah Swt: Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum,
mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. (Q.S. al-Maidah/5:8).
Allah Swt mengingatkan kita untuk tidak menempuh cara-cara
kekerasan untuk tujuan apapun. Kita tidak dibenarkan mengorbankan orang lain.
Dalam Al-Qur'an ditegaskan: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan
karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di
muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan
barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia
telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (Q.S. al-Maidah/5:32).
Demikian pula kita tidak dibenarkan mengorbankan diri sendiri di
dalam berdakwah atau memperjuangkan sebuah gagasan, sebaik apapun gagasan itu,
sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu
sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. al-Baqarah/2:195). Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa atas nama apapun, untuk apapun, dan kepada siapapun,
kekerasan tidak ada tempatnya dalam Islam.
Sumber: detik.com
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia






















