Teomorfisme Manusia (1)
Kalangan sufi cenderung menganggap roh dalam diri manusia sebagai unsur suci (Lahut) yang terselip di dalam diri manusia. Roh ini kemudian bukan hanya menempatkan manusia sebagai makhluk istimewa tetapi manusia dianggap sebagai madhhar, tajalli, atau manifestasi Tuhan. Manusia dianggap sebagai mikrolosmos, miniatur alam semesta. Bahkan manusia juga dianggap sebagai insan kamil.
Menurut Ibn 'Arabi, manusia diciptakan berdasarkan apa mau Tuhan kepada manusia, bukan berdasarkan apa maunya manusia pada dirinya sendiri. Dengan mengutip banyak ayat dan hadis, Ibnu 'Arabi seolah menganggap manusia bukan hanya sebagai mikrokosmos tetapi sebagai "cermin" Tuhan, dengan mengutip hadis: "Sesungguhnya Allah menciptakan Adam berdasarkan shurah-Nya". Allah sendiri memerintahkan para makhluknya untuk sujud kepada Adam pasca peng-install-an roh ke dalam diri Adam, sebagaimana disebutkan dalam ayat:?????? ??????? ??????????????? ????????? ??????? ?????????? ?????? ????????? ?????? ????????????? ??????? ???? ?????????????
Allah Swt juga menyatakan sendiri telah memuliakan anak-anak cucu Adam, sebagaimana ditegaskan dalam ayat:
???????? ?????????? ????? ????? ??????????????? ??? ???????? ??????????? ?????????????? ????? ????????????? ???????????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????????
??????? ??????????? ?????????? ????? ??? ??????? ???????? ???? ??????????
"Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (Q.S. al-Hijr/15:29).
Roh inilah kemudian yang membuat para malaikat dan makhluk lainnya selain Iblis sujud kepada manusia. Lebih lanjut Ibn 'Arabi menjelaskan di dalam kitab Futuhat al-Makkiyah-nya bahwa bukan hanya roh, tetapi substansi jiwa manusia juga diciptakan mengikuti asma' dan sifat Allah Swt. Nama-nama dan sufat Allah Swt memiliki dua komponen penting, yaitu ketegaran/kejantanan (jalaliyyah/masculinity/Yang) dan kelembutan (jamaliyyah/femininity/Yin). Tidak ada makhluk lain yang mampu merepresentasikan kapasitas Tuhan selain manusia. Malaikat hanya merepresentasikan sifat-sifat jamaliyyah Tuhan. Karena itu malaikat tidak pernah mengenal dosa dan pelanggaran. Berbeda dengan manusia, selain merepresentasikan sifat-sifat jamaliyyah juga mewarisi sifat-sifat jalaliyyah yang menempatkan manusia sebagai representasi utuh Tuhan.
Sumber : detik.com
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia























