Syukur Epistemologi
Syukur epistemologi. Istilah yang kali pertama saya dengar. Dr. Abdelaziz Abbaci yang memperkenalkan di kelas kami, Senin 28/03/22 di Istiqlal. Salah satu dosen Epistemologi Islam berkebangsaan Al-Jazair yang sudah mengindonesia. Beliau menguasai banyak bahasa. Tawadhu dan disiplin. Wawasannya sangat luas, terkhusus filsafat dan tasawuf.
Di sela-sela pembahasan epistemologi Plato, beliau memantik diskusi tentang konsep syukur dalam Alquran. QS. Ibrahim 7
وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ
7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Beliau meminta pandangan maha santri tentang ayat di atas. Spontan kami menjawab bahwa syukur adalah memanfaatkan segala nikmat Allah di jalan yang benar dan diridhai oleh-Nya. Beliau pun tersenyum, dan mengatakan bahwa itu adalah syukur teologi. Sementara syukur epistemologi, menurutnya, maknanya lebih dalam daripada itu. Tidak hanya sebatas ungakapan terimakasih atas nikmat Allah.
Syukur epistemologi dimaksud lebih pada aspek ketersingkapan hakikat sesuatu. Sebagaimana kata syukur itu sendiri bisa bermakna membuka dan menyingkap. Lawan daripada kufur yang bermakna menutupi. Syukur dalam konteks ini, kemampuan menyingkap tujuh tingkatan alam, serta mengaktifkan tujuh potensi manusia.
Dalam pandangan sufistik, alam ini bertingkat; mulai alam materi, mitsali/barzkah, ruh, sampai alam ilahiyyat. Sementara daya manusia juga bertingkat. Mulai indra, akal, qalbu, sirr sampai akhfa. Tiap tingkatan alam dapat dipahami sesuai daya manusia yang aktual.
Memahami alam materi cukup menggunakan indra. Alam barzakh atau alam mitsali harus menggunakan akal atau khayali (daya imajinatif). Di atas keduanya ada alam ruh, alam para malaikat. Atau juga dikenal as-samiyat. Untuk memahami hakikatnya hanya dengan potensi qalbu. Sampai pada alam ilahiyyat yang hanya dapat dipahami dengan potensi akhfa. Pembahasan tentang hakikat alam dan potensi manusia masih perlu pendalaman.
Namun intinya bahwa, orang yang bersyukur dalam konteks sufistik adalah orang yang mampu menyingkap hakikat alam dan potensi dirinya. Terperdaya oleh alam materi pertanda ketidaktahuan hakikat alam materi. Dan itulah kekufuran yang nyata. Menjadikan materi sebagai tujuan adalah awal dari penderitaan. Tidak hanya di akhirat, tapi juga di dunia. Banyak orang stres dan depresi karena kilauan dunia materi. Semakin dikejar, semakin jauh. Semakin ditumpuk, semakin kurang.
Dengan demikian, bersyukur epistemologi, mengharuskan seseorang untuk mengasah potensi diri untuk memahami hakikat alam yang lebih tinggi. Prosesnya dimulai dengan tazkiyat an-nafs. Penyucian jiwa dan tafakkur. Melepaskan kemelekatan dengan materi secara pelan-pelan. Mengaktifkan daya intuitif (qalb) untuk menjalin relasi dengan alam malakut. Dalam bahasa sufistik, proses ini dikenal tarawwuh, gerak ke atas menuju alam ilahiyat. Dan maqam yang tertinggi adalah Rasulullah Saw. sebagai insan kamil.
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia
Penulis






















