Sya'ban, Bulan Shalawat dan Keutamaan Lainnya
Sya’ban (dalam KBBI ditulis Syakban)
adalah bulan kedelapan dalam kalender hijriyah. Ia terletak di antara bulan mulia
lainnya, yaitu Rajab dan Ramadhan. Karena kemuliaan tiga bulan tersebut, muslim
sering berdoa,
“Allahumma bārik lanā fī
Rajab wa Sya’bān wa ballighnā Ramadhān (Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Syakban, serta
pertemukan kami dengan bulan Ramadhan).
Arti Syakban
Sebagaimana nama-nama bulan hijriyah lainnya, Syakban memiliki maknanya
tersendiri. Menurut Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki dalam karyanya Mādzā
fī Sya’bān?, bulan ini dinamakan dengan Syakban karena di dalamnya
terkumpul (ta’asyyub) banyak kebaikan.
Disebutkan juga bahwa Syakban berasal dari kata
al-Syi’b, yang berarti jalan di pegunungan, yaitu jalan kebaikan.
Pendapat lain menyebutkan asal kata Syakban adalah al-Sya’b (menambal). Karena pada
bulan ini Allah menambal hati orang-orang
yang beribadah kepada-Nya.
Peristiwa Penting dan
Keutamaan Bulan Syakban
Sayyid Muhammad dalam kitabnya Mādzā fī Sya’bān? menyebutkan
beberapa kejadian penting dan keutamaan yang terjadi di bulan Syakban. Di
antara yang disebutnya beliau adalah:
Pertama, pemindahan arah kiblat. Dijelaskan oleh Sayyid Muhammad
bahwa pemindahan arah kiblat dari Bait al-Maqdis (Masjid al-Aqsha) menuju
Kakbah adalah momentum yang sangat ditunggu oleh Nabi Muhammad SAW. Setiap hari
Nabi Muhammad berdiri dan mengarahkan wajahnya ke langit menunggu wahyu,
sehingga turunlah surah al-Baqarah ayat ke-144 yang menjelaskan tentang
perpindahan arah kiblat.
Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengutip
riwayat dari al-Baraa’ yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad shalat menghadap
Bait al-Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan lamanya. Sedangkan Sayyid Muhammad, mengutip pendapat Abu Hatim, menjelaskan
bahwa lamanya kaum muslim shalat berkiblat Bait al-Maqdis adalah tujuh belas
bulan tiga hari.
Kedua, diangkatnya amal ibadah hamba dalam setahun. Berdasarkan
sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Nasa’i dari sahabat Usamah bin
Zaid, ketika dia bertanya kepada Nabi mengapa beliau berpuasa di bulan Syakban
lebih banyak dibandingkan dengan bulan lainnya. Nabi pun menjawab,
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ
بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى
رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Itu
bulan yang dilalaikan manusia antara bulan Rajab dan Ramadhan. Dia adalah bulan
di mana amal-amal diangkat menuju Tuhan Semesta Alam. Maka aku ingin amalku
diangkat ketika aku sedang berpuasa.”
Namun
demikian, Sayyid Muhammad menjelaskan bahwa diangkatnya amal ibadah seorang
hamba tidak hanya terjadi di bulan Syakban. Tetapi juga terjadi setiap minggu,
siang dan malam, dan di siang hari, sebagaimana juga dijelaskan oleh nu.online.
Ketiga, bulan shalawat kepada Nabi
Muhammad SAW. Salah satu ayat al-Qur’an yang turun di bulan Syakban adalah ayat
ke-56 surah al-Ahzab, yaitu:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى
النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk
Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan
ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
Karena turunnya ayat di atas terjadi pada bulan
Syakban, Imam Syihab al-Din al-Qasthalani dalam kitabnya al-Mawāhib, sebagaimana
dikutip Sayyid Muhammad, menyebut bulan Syakban adalah bulan shalawat kepada
Nabi SAW. Oleh karena itu,
umat muslim dianjurkan untuk banyak menghaturkan shalawat kepada Nabi Muhammad
di bulan ini.
Abu al-Laits al-Samarqandi rahimahullah menyebutkan
bahwa shalawat untuk Nabi Muhammad adalah ibadah yang paling utama. Alasannya
berdasarkan perintah untuk bershalawat di atas, bahwa Allah tidak hanya
memerintahkan hamba-Nya untuk bershalawat, tetapi Dia dan malaikat-Nya telah
melakukannya.
Keempat, puasa sunah paling afdol. Dalam sebuah hadits garīb riwayat Imam al-Tirmidzi disebutkan bahwa ketika
Rasulullah SAW ditanya mengenai puasa yang paling afdol setelah puasa Ramadhan,
beliau menjawab, “(puasa) di bulan Syakban untuk mengagungkan Ramadhan.”
Sayyidah Aisyah menjelaskan bahwa
puasa sunah yang paling banyak dikerjakan Nabi Muhammad SAW adalah di bulan
Syakban. Aisyah berkata, “Rasulullah terbiasa berpuasa di bulan Syakban
kecuali sedikit darinya.”
Kelima, penetapan
umur manusia. Sayyid Muhammad menjelaskan bahwa maksud dari penetapan umur
manusia di bulan Syakban adalah bahwa dimulai pada bulan Syakban di tahun
itulah ketetapan umur manusia yang telah ditetapkan Allah di zaman azali
ditampakkan.
Sayyidah Aisyah pernah bertanya
kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, benarkah bulan yang paling engkau senangi untuk
berpuasa adalah Syakban?” Rasulullah SAW menjawab, “Sesungguhnya Allah
menentukan atas setiap jiwa yang mati pada bulan Syakban di tahun itu. Maka aku
senang jika ajalku menemuikan ketika aku sedang berpuasa.”
Itulah beberapa keutamaan dan peristiwa penting yang terjadi di bulan Syakban yang dijelaksan oleh Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki dalam karyanya Mādzā fī Sya’bān.
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia























