Pelajaran Diplomasi Publik (1): Kepiawaian Diplomasi Nabi Ibrahim
Ketika Nabi Ibrahim
mengungkapkan rasa kekesalannya terhadap raja dan masyarakat yang bukan saja
zalim tetapi juga menampilkan akidah yang sesat, dengan menyembah berhala
berupa patung. Di sebuah bangunan besar Nabi Ibrahim memasuki kompleks
penyembahan berhala yang berisi berbagai macam patung. Para Raja seolah
mengecoh rakyatnya dengan kepercayaan terhadap kekuatan gaib yang tersembunyi
di balik patung itu.
Kejengkelan Nabi Ibrahim diungkapkan di dalam ayat: Ya Tuhan-ku,
sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia,
maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk
golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau,
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Ibrahim/14:36). Dan (ingatlah) di
waktu Ibrahim berkata
kepada bapaknya Aazar: "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai
tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang
nyata." (Q.S. al-An'am/6:74).
Setelah Nabi Ibrahim berusaha mempertanyakan
keberadaan berhala-berhala di zamannya, lalu ia dijawab itu tradisi nenek
moyong secara turun-temurun, Anda tidak perlu mengusili kebiasaan kami.
Mendengarkan penjelasan seperti itu, anak muda sang idealis membuat langkah
progresif dengan melakukan sesuatu, sebagaimana digambarkan dalam ayat berikut
ini:
Maka Ibrahim membuat
berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari
patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka
berkata: "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami,
sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang lalim". Mereka berkata:
"Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang
bernama Ibrahim". Mereka berkata: "(Kalau demikian) bawalah dia
dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan". Mereka
bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan
kami, hai Ibrahim". Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar
itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka
dapat berbicara". (Q.S. al-Anbiya'/21:58-63).
Ketika patung-patung mereka dihancurkan Nabi Ibrahim tetap
memperlihatkan ketenangannya ketika ia ditanya Raja tentang siapa yang
melakukan penghancuran berhala mereka. Ia menjawab dengan tenang tuduhan Raja
dan kalangan masyarakat dengan penuh diplomasi yang membuat masyarakat tidak
percaya jika Nabi Ibrahim menjadi pelaku tunggalnya. Jawabannya ialah:
"Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah
kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara".
Bahasa diplomasi ini menyelamatkan Nabi Ibrahim dari amarah raja
dan rakyatnya. Seandainya ia dengan lugu menyatakan "aku yang
merusaknya" mungkin saat itu juga ia akan dibunuh. Akan tetapi tujuan
mulia yang diemban Nabi Ibrahim tidak boleh dilaksanakan secara emosi tanpa perhitungan,
sehingga Nabi Ibrahim secara spontan menyatakan pernyataan itu. Nabi Ibrahim
mengelabui Raja dan warganya dengan pernyataan itu lalu dipahami yang membantai
berhala-berhala itu ialah berhala yang paling besar yang sudah digantungi kapak
besar. Masyarakat memahami yang merusak ialah sang berhala besar tetapi Nabi
Ibrahim juga tidak serta merta disebut berbohong karena berhala yang paling
besar memang yang telah dikalungi kapak itu. Meskipun Nabi Ibrahim menurut
kacamata diplomasi tidak bohong tetapi kasus itu membuat Nabi Ibrahim tidak
sanggup menghadap pada Allah Swt di Padang Makhsyar karena ia terbebani rasa
bersalah yang menganggap dirinya telah berbohong kepada umatnya.
Sumber: detik.com
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia























