Nalar Sufistik

“Alangkah ruginya seseorang (penuntut ilmu), jika gurunya hanya manusia”, tandas Prof. Nasar di awal pengajian tafsir di Pondok Najda. Sebuah untaian hikmah yang sangat penting dan mendasar. Prof. Nasar mengulang dua kali dengan mimik yang sangat serius. Untaian hikmah di atas, erat kaitannya dengan sumber pengetahuan. Atau lebih dikenal dengan epistemologi (nazariyat al-ma’rifah).
Kali ini sebenarnya, Prof. Nasar banyak menyinggung mutiara-mutiara yang lain. Termasuk konsep tawakkal dan fana dalam perspektif sufi. Namun tulisan ini hanya fokus pada satu mutiara saja, yaitu tentang sumber pengetahuan dalam pandangan sufistik. Sebuah tawaran pandangan dunia (world view) terhadap krisis dan kekeringan spiritual yang dialami masyarakat milenial dewasa ini.
Menurut Prof. Nasar, sumber ilmu itu tidak hanya berdasar pada rasio saja, tapi juga pada intuisi, wahyu, mimpi dan mukasyafah. Pandangan tersebut, bukan hal baru. Telah banyak diulas dalam literatur Islam. Bahkan dalam tradisi pesantren. Paradigma ini dikenal ilmu ladunni ataupun ilmu huduri. Lawan daripada ilmu husuli yang berbasis pada akal dan indra.
Namun, sayang paradigma tersebut belum menjadi perhatian kolektif. Belum menjadi pembahasan ilmiah, baik di pesantren terlebih lagi di sistem pendidikan secara umum di Indonesia. Nalar fikih dan teologis masih mendominasi nalar pendidikan kita. Akibatnya, sengketa pemikiran dan perbedaan mazhab menjadi petaka, bukannya menjadi rahmat. Sesat menyesatkan menjadi ‘kenikmatan dan kepuasan’ tersendiri oleh oknum tertentu. Islam pun ditampilkan kaku dan garang di permukaan. Ajaran substantif terkungkung oleh nafsu, tersandera oleh pembacaan tekstual nan formalistik. Padahal sejatinya, ajaran Islam fleksibel, memudahkan dan memanusiakan.
Dalam konteks ini, tawaran Prof. Nasar menemukan relevansinya. Nalar sufistik perlu dibumikan dan dimasyarakatkan. Bukan berarti meninggalkan nalar fikih dan teologis. Tapi justru untuk menguatkan dan saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Dalam bahasa yang populer “Syariat tanpa hakikat adalah kosong, hakikat tanpa syariat adalah batil”. Dalam hal ini, nalar sufistik penting menjadi paradigma untuk memahami baik terhadap ayat-ayat quraniyah, maupun ayat kauniyah.
Dengan nalar sufistik, seorang mufasir akan jauh menyelami makna-makna isyari dari ayat Alquran. Yaitu makna yang tak tertulis. Seperti Ibnu Abbas bersedih ketika turun QS. An-Nasr. Sabahat lain riang gembira karena berita kemenangan besar umat Islam. Namun, Ibnu Abbas malah bersedih dan menangis. Ia memahami ayat itu sebagai isyarat bahwa ajal Rasulullah sudah dekat.
Begitu pun dengan penafsiran Prof. Nasar tentang tasbih. Menurutnya, tasbih bukan hanya sekedar zikir lisan. Tapi makna terdalam dari tasbih adalah menyucikan Allah dari segala bentuk pikiran negatif maupun positif tentang-Nya. Allah Mahasuci dari segala kekurangan. Allah pun Mahasuci dari segala imajinasi kesempurnaan hamba-Nya. Hakikat Tuhan lebih daripada itu. Tak terdefinisikan oleh huruf.
Dengan nalar sufistik juga seseorang mampu memahami hakikat realitas yang ada. Atau membaca ayat-ayat kauniyah secara mendalam. Dalam nalar sufistik, realitas yang banyak dan tak terbatas ini, sejatinya hanya satu. Warna, jenis dan segala bentuk yang beragama hakikatnya cuma satu. Itulah hakikat tauhid (the onenees). Inti dari kalimat lailaha illallah. Semuanya dari Allah, untuk-Nya, dengan-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Demikian Prof. Nasar menegaskan.
Pemahaman di atas, tentu tidak berangkat dari hanya sebatas penalaran rasio. Memahami hakikat tersebut lahir daripada epistemologi yang khas. Prosesnya panjang. Melewati proses tazkiyah nafs sebelum belajar. Tidak hanya berguru pada manusia. Tapi berguru kepada seluruh yang ada. Yang tak terbatas. Hewan, pohon bahkan batu-batuan. Mereka adalah guru. Sebagaimana Nabi Musa berguru pada pohon Q.S. al-Qashash: 30. Segalanya adalah tanda kebesaran Allah (QS Fussilat: 53). Ibnu Arabi dan Said Nursi melihatnya sebagai tajalliyat (menefestasi) Allah.
Pandangan di atas bukanlah perkara bid’ah, mengada-ada, apalagi kesesatan. Melainkan itulah realitas quraniyah. Pohon, tumbuh-tumbuhan dan batu-batuan sejatinya tidak mati. Mereka adalah makhluk yang memiliki jiwa, sama halnya manusia (QS. Al-An’am: 38). Mereka bertasbih, sebagaimana manusia bertasbih (QS. Al-Isra: 44). Mereka bersedih sebagaimana manusia bersedih. Hadis merekam jejak fenomena itu; kisah pohon kurma yang menangis bersedih ditinggal oleh Rasul; gunung Uhud yang sangat mencintai umat Islam dan batu di mekkah yang memberi salam kepada Rasulullah dll.
Fakta tersebut tak terbantahkan, sekalipun terkadang rasio susah untuk memahaminya. Menyadari hal tersebut, tidak hanya memperkaya sumber pengetahuan manusia, tapi juga meningkatkan kesadaran ekologis, yaitu adanya relasi ketersalingan antara manusia dan semesta. Dalam konteks ini, nalar sufistik menemukan momentumnya. Realitas tidak hanya yang terindra yang dapat diuji secara di laboratorium. Bukan juga hanya sebatas yang rasional. Tapi realitas melampau kedua hal tersebut. Untuk mencapainya mengharuskan gabungan antara olahraga, olah akal dan olah hati. Itulah nalar sufistik maupun nalar irfani!
Insight, pengajian subuh 17 Maret 2022

Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia


Bagikan :
Penulis
Foto User
Darlis, Lc., M.S.I.

(darlisdawing@gmail.com)

Ad