Mufasir literat
Ternyata, kita tidak bisa hanya menggunakan metode sastra saja dalam
mempelajari Al-Qur'an. Analisis linguistik
atau lughawi alquran misalnya, tentu tak akan mampu menyingkap semua aspek yang
dikandungi oleh teks Al-Qur'an. Sebagai objek kajian, alquran tidak bisa disamakan
dengan karya sastra lainnya. Berikut beberapa perbedaan teks suci Alquran
dengan teks karangan manusia:
1. Meski kedua jenis teks suci alquran dan teks marxisme misalnya sama-sama dinilai sebagai dokumen sosial yang
mampu membentuk kerangka berfikir masyarakat. Mufasir tidak mungkin hanya bermodal
ilmu sosial-kultural untuk memahami simbol bahasa dengan merujuk kepada sistem budaya yang ada pada saat
kelahiran teks.
2. Penyair, penulis buku
dalam setiap karyanya pasti terpengaruh dengan karya penulis sebelumnya.
Sehingga ada kajian intertekstualitas referensial dalam kajian linguistik. karya
sastra manusia biasa memiliki
aspek subjektif-kesan-historis. Sementara itu,
teks Al-Qur'an melampaui aspek subjektivitas dirinya karena dia terus-menerus menyebar dalam dimensi waktu.
3. Dan lagi, Teks
sastra biasa terikat dengan
fase kelahirannya dan fase kematiannya (saat
lahir teks baru). Sementara itu, keunikan teks Al-Qur'an adalah ia terus
mengalami proliferasi dalam dimensi waktu
dan sejarah. Ia adalah teks yang orisinil dan mampu menghubungkan 3 dimensi waktu (masa lalu-masa kini-masa depan).
4. Kesimpulan akhir,
yang jelas membedakan bahwa Teks
sastra adalah teks yang subjektif dan humanis, bisa dipatahkan dan juga
diabaikan atau dengan kata lain bersifat relatif.
Sementara teks Al-Qur'an amat kuat mengendalikan, bahkan mampu membantah semua pemikiran yang menentangnya, memberikan world view yang pasti dan final,
visi yang kuat, dan jawaban-jawaban yang tegas.
Sebab, Karena itu lah sebagai
seorang mufassir yang mengaku cinta kepada alquran harus memiliki kemampuan
multidisipliner ilmu untuk mengkaji teks alquran yang fundamental ini, hingga ia
dapat menghasilkan makna-makna yang segar. Dengan kemampuan multidisipliner
ilmu itu, seorang mufasir literat mampu menggabungkan berbagai ilmu yang ia
kuasai sehingga mampu menciptakan suatu ilmu interdisipliner baru untuk
mengkaji kalamullah yang maha suci ini. Tak heran para ulama klasik terdahulu
memiliki kemampuan banyak cabang ilmu. Luarbiasa!
Intinya, Mufasir literat sangat
dibutuhkan untuk membongkar
permasalahan ummat di akhir zaman ini.
Apa beda mufasir modern dengan mufasir klasik? Bagaimana mufasir literat
bisa mengambil berkah ulama dimasa lalu untuk membantah ulama sesat masa kini?
Bersambung...
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia






















