Menepati Perjanjian Damai
Al Quran sangat
melarang seseorang atau kelompok menghianati perjanjian yang telah disepakati,
walau itu dengan kelompok agama lain. Di antara ayat itu ialah: Dan penuhilah
janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya/Q.S.
al-Isra'/17:34). Yata lain: Wahai orang_orang yang beriman penuhilah janji_jani
itu (Q.S. Al- Maidah/5:1) dan banyak lagi ayat lainnya.
Nabi sendiri pernah menegakkan perjanjian di dalam suasana yang
amat sulit di dalam Perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian itu baru saja
ditandatangani Nabi Bersama Suhail ibn Amru, pimpinan delegasi non-muslim
Quraisy. Salahsatu Perjanjian itu menyatakan jika umat Islam ditangkap di
wilayah yang dikuasai non-muslim Quraisy maka ia harus ditahan dan kalau umat
non-muslim Quraisy ditangkap maka harus segera dibebaskan ke negerinya. Belum
bubar acara itu tiba-tiba salahseorang tawanan sahabat bernama Jandal ibn
Suhail lari dari tahanan kaum Quraisy untuk meminta perlindungan Nabi. Namun ia
lebih dahulu disergap oleh Suhail dan menamparnya di depan Nabi sambil
mengatakan: Lihat orangmu ini Muhammad, baru saja kita menandatangani
Perjanjian Damai sudah mau kabur. Nabi menjawab: Engkau benar wahai Suhail
sambil memegang pemuda itu. Nabi meminta pemuda itu untuk kembali ditahan demi
menaati perjanjian damai tadi. Pemuda itu berteriak: Wahai umat Islam yang
hadir di sini, apakah kalian rela kalau aku diserahkan ke tangan mereka?
Sahabat Nabi pada diam. Nabi melanjutkan perkataannya dengan mangatakan: Wahai
Abu Jandal, kembalilah dan bersabarlah, Allah Swt akan memberikan jalan keluar
untukmu bersama orang-orang yang bersamamu. Kami barui saja mengadakan
perjanjian damai dengan mereka, dan kami telah berjanji untuk menaati mereka
pedrjanjian itu dan tidak mungkin kami bisa melanggar perjanjian itu. Para
sahabat terdiam menyaksikan pemandangan itu dan pasukan non-muslim Quraisy
menyaksikan kuatnya komitmen Nabi terhadap apa yang telah dinyatakannya.
Nabi
memberikan nasihat kepada para sahabatnya dan sekaligus kepada seluruh umatnya
agar selalu menaati janji, sekalipun kepada musuh. Ia menegaskan agar umat Islam
jangan munafik. Menurut beliau, ciri-ciri orang munafik itu ada empat, yaitu 1)
Bila dipercaya ia khianat. 2) Bila bicara ia bohong. 3) Bila betrjanji ia tidak
tepati. 4) Bila bersengketa ia curang. (HR. Bukhari-Muslim).
Al Quran juga telah
memperingatkan agar orang-orang menempati janji ke dalam bentuk sebuah
perumpamaan menarik, yaitu: Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang
menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai
kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di
antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari
golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan
sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu. (Q.S. al-Nahl/16: 92).
Ayat dan hadis di atas menunjukkan betapa agungnya pribadi Nabi.
Ia bisa saja membela si pemuda itu tetapi karena nilai sebuah perjanjian, maka
dengan berat hati ia mengembalikan sahabatnya untuk ditahan oleh kaum Quraisy.
Ayat di atas juga sangat indah melukiskan bagaimana perumpamaan orang-orang
begitu gampang berjanji tetapi begitu gampang juga mengingkari janjinya.
Tentu ini pelajaran berharga buat kita semua dan sekaligus Nabi
mencontohkan bahwa menepati janji itu memang memerlukan pengorbanan dan
pengertian yang mendalam. Namun setelah kita menepati janji, maka Tuhan pun
tidak diam. Ia memberi berkah kepada orang-orang yang menempati janji. Tidak
lama setelah peristiwa itu, orang-orang Quraisy melanggar janjinya. Akibatnya
keadaan berbalik. Orang-orang non-muslim Quraisy ramai-ramai memeluk agama
Islam. Tidak lama setelah itu kota Mekah direbut kembali (Fathu Makkah) tanpa
setetes darah mengucur.
Sumber: detik.com
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia






















