Menciptakan Rasa Aman
Menciptakan rasa aman kepada seluruh warga
masyarakat tanpa membedakan kelompok agama, aliran, mazhab, etnik, dan
kewarganegaraan salah satu misi pokok yang disampaikan Al Quran. Al Quran
banyak memberikan contoh pemberian salam kepada berbagai kelompok. Itu artinya
menghembuskan energi positif kepada semua orang sama dengan melahirkan rasa
aman kepada kelompok masyarakat tersebut. Di antara ayat itu ialah: Wahai
orang-orang yang telah beriman, janganlah memasuki rumah-rumah selain dari
rumah kamu, sehingga kamu meminta izin dahulu dan memberi salam kepada
penghuninya; itu lebih baik bagi kamu, mudah-mudahan kamu mengingat/Quran:
al-Hujurat/24:27). Sebaliknya Al-Qur'an banyak melarang untuk mengembuskan
energi negatif di dalam masyarakat, sebagaimana bisa di lihat dalam Q.S.
Al-Hujurat43, hampir semua isinya menyerukan orang untuk menegakkan rasa aman
dan mencegah lahirnya phobia di dalam masyarakat.
Dalam hadis Nabi juga
pernah ditegaskan: "Maukah kamu aku kutunjukkan kepada sesuatu yang
apabila kamu lakukan kamu akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di
antara kamu" (HR. Muslim). Hadis ini sejalan dengan ayat: "Dan jika
dihormati dengan suatu penghormatan, balaslah penghormatan itu dengan dengan
yang lebih baik dari padanya (yang serupa)." (Q.S. al-Nisa'/4:86). Sebuah
riwayat dari Ama'binti Abi Bakar (W.73H) bertanya kepada Nabi perihal kedatangan ibunya yang masih bersatatus
non-muslim. Apakah boleh menyambut dan bersilaturrahim dengannya, lalu Nabi
menjawab: "Sambutlah ubu dan bersilaturrahimlah dengannya". (HR.
Bukhari dan Muslim). Riwayat lain dari 'Aisyah ra (W.58H) menceritakan
sekelompok Yahudi datang kepada Nabi sambil mengatakan: "Assalamu alaikum"
(kebinasaan atasmu), lalu Aisyah menjawab: "Waalaikumussam wa
al-la'nah" (atasmu juga kebinasaan dan laknat). Mendengarkan isterinya
menjawab salam seperti itu, maka Nabi menegur: Pelan-pelan wahai Aisyah,
sesungguhnya Swt menyukai kelembutan dalam setiap perkara". Aisyah
membela: "Apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakana
kepadamu?" Nabi menjawab: "Engkau telah menjawab dengan kata
wa'alaikumussam". (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam satu riwayat juga disebutkan Umar ibn Khaththab pernah
disalami seorang non-muslim dalam perjalanan di tengah padang pasir. Salam
orang itu ialah: Asamu alaikum (kebinasaan atas kalian). Umar menghunus
pedangnya dan membunuh orang itu. Sahabat yang menyertainya kaget dan bertanya,
kenapa engkau membunuh orang yang menyalamimu? Umar menjelaskan, apakah kalian
tidak perhatikan ucapannya yang mengatakan: Assamu alaikum? Dari keterangan
dalil-dalil di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada masalah memberi salam
atau menerima salam kepada atau dari umat non-muslim, jika itu dengan niat yang
baik serta sesuai ucapan salam yang lumrah diucapkan, seperti ucapan salam yang
bersifat generic, umum, atau salam universal, semisal Selamt Pagi, Selamat
Siang, Selamat Malam, dan Salam Sejahtera. Namun perbedaan pendapat muncul
manakala memberi salam dengan menggunakan simbol salam agama masing-masing
untuk komunitas lain.
Sebagian ulama berpendapat boleh memberi atau
menjawab salam dengan salam standard muslim kepada atau dari umat non-muslim
dengan keyakinan makna generic salam itu adalah salam universal. Apalagi lafad:
"Assalamu alaikum wa rahmatullah wa barakatuh" yang dianggap sudah
menjadi salam nasional untuk bangsa Indonesia. Sebagian lagi berpendapat tidak
boleh karena itu khas untuk umat Islam. Kelompok lain berpendapat boleh jika ada
dalam satu pertemuan di dalamnya ada orang Islam. Perbedaan pendapat muncul
apakah umat Islam boleh memulai menyampaikan salam kepada orang-orang
non-muslim? Sebagian ulama seperti Ibn Qayyim, Imam Al-Qurtubi, Ibnu Hajar
al-'Asqallani, Imam Al Qaradawi, dan Yusuf Qardhawi membolehkan umat Islam
mendahului memberi salam kepada orang-orang non-muslim. Alasannya antara lain
ayat dalam al-Qur'an: "Allah tidak melarang kamu kalian berbakti kepada
mereka yang tidak memerangi dan tidak mengeluarkan kamu kalian daripada rumah-rumah
kamu". (Q.S. al- Mumtahanah/60:8) dan "Di antara melakukan kebaikan
adalah memberi salam kepada mereka",(Q.S. Maryam/19:47), yakni Nabi
Ibrahim memberi salam kepada ayahnya yang non-muslim.
Sumber: detik.com
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia























