Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Memperkenalkan Perpustakaan Modern
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Dunia Islam abad pertengahan
merintis perpustakaan terlengkap dan modern. Sulit dibayangkan 1000 tahun lalu
sudah ada perpustakaan Baitul Hikmah yang mengoleksi buku lebih dari 4 juta
buah, kemudian buku-buku itu dibuang ke sungai Tigris oleh Pasukan Mongol yang
menguasai Bagdad ketika itu, sehingga airnya menjadi hitam karena tinta selama
berbulan-bulan. Meskipun turunan pasukan Mongol pada akhirnya memeluk agama
Islam dan ikut menyesali perbuatan kakeknya yang bertindak kejam dan membakar
Baitul Hikmah itu.
Bukan hanya di Baitul Hikmah, kerajaan-kerajaan lain dunia Islam
berlomba mengoleksi buku-buku dari berbagai bahasa. Perpustakaan dunia Islam
masa silam yang pernah jaya dengan mengoleksi berbagai karya-karya langka
antara lain: Baitul Hikmah di Bagdad, Al-Haidariyah di An-Najaf, Ibnu Sawwar di
Basrah, Sabur, Darul Hikamah di Kairo, dan sejumlah perpustakaan di sekolah
atau madrasah atau pusat-pusat kajian. Selain perpustakaan terbesar tadi masih
ada sejumlah perpustakaan khusus dengan masing masing koleksinya yang secara
khusus, seperti perpustakaan semi umum yang didirikan oleh para khalifah dan
untuk mendekan diri kepada ilmu pengetahuan. Di antara perpustakaan tersebut
ialah Perpustakaan An-Nashir li Dinillah, Perpustakaan Al-Muzta'sim Billah, dan
Perpustakaan Khalifah-Khalifah Fathimiyah.
Gairah keilmuan orang-orang di abad pertengahan memang luar biasa. Bayangkan misalnya Ibn Hazm, yang dikenal sebagai ulama yang hebat, mampu menulis kitab 400 jilid dengan perkiraan sekitar 80.000 halaman. Nama lain ialah Ibn Hajar al-'Asqallani yang menulis Syarah Hadis Imam Bukhari yang berjilid-jilid. Pernah ada orang yang menghitung, jika dihitung halaman buku yang pernah ditulis oleh Al-Thabari dikalikan dengan umurnya maka rata-rata sehari menulis sekitar 5 halaman. Nama lain yang tidak asing di Indonesia ialah Imam Syafi'i, Imam Al-Gazali, dan Ibn 'Arabi, yang menulis kitab berjilid-jilid dari berbagai disiplin ilmu. Gairah ilmiah di abad pertengahan belum bisa tandingi oleh para ilmuan pada abad sesudahnya. Sifat perpustakaan dunia Islam ketika itu antara lain:
1) Untuk
mengoleksi buku-buku dari mana pun asalnya untuk memberikan wawasan kepada
ilmuan muslim.
2) Untuk
disalin atau digandakan ke daerah-daerah lain, maklum ketika itu belum ada foto
copy atau mesin cetak canggih seperti sekarang. Untuk menggandakan buku atau
kitab dilakukan penulisan ulang. Gedung perpustakaan dipenuhi oleh para penulis
kitab.
3) Untuk
diterjemahkan, khususnya dari bahasa-bahasa asing bagi dunia Arab, seperti
bahasa Yunani, China, dan India.
4) Sebagai pusat penelitian, yaitu para ilmuan mengkaji buku-buku itu untuk dikembangkan lebih lanjut. Perpustakaan pada masa itu tidak pernah sepi, karena empat kegiatan tersebut.
Sumber: detik.com
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia






















