Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Islam sebagai Agama Kemanusiaan
Islam diturunkan untuk memanusiakan manusia. Islam sarat dengan tuntutan
agar manusia tetap mempertahankan eksistensinya sebagai manusia, tidak turun ke
derajat binatang atau lebih rendah dari binatang. Warning ini sudah ingatkan
Tuhan dalam Al-Qur'an (Q.S. al-A'raf/7:179). Sila kedua dari Pancasila,
"Kemanusiaan yang adil dan beradab" sungguh sangat dekat dengan
ajaran Al-Qur'an dan tentu saja dengan agama-agama lain di Indonesia. Sila ini
seolah menggambarkan tujuan umum agama (maqashid al-syari'ah). Kosa kata ini
yang digunakan dalam sila kedua ini keseluruhannya berasal dari bahasa agama.
Kata "kemanusiaan" berasal dari akar kata bahasa bahasa Arab
"anisa-ya'nas" jinak, ramah, dan senang. Dari akar kata itu lalu
lahir hata "insan" (manusia), kemudian mendapatkan imbuhan ke dan an
(kemanusiaan), berarti bersifat kemanusiaan (humanity). Kata "Adil"
jelas dari bahasa Arab ('adl), berarti hidup berkeseimbangan dan harmonis,
tidak berat sebelah, dan memberikan rasa puas terhadap semua pihak. Kata
"Beradab" juga berasal dari bahasa Arab (aduba-ya'dub) berati berbudi
lahir, span santun, berakhlak mulia. Dilihat dari asal-usul suku kata yang
digunakan sila kedua ini tidak bisa diingkari aspek religiusitasnya.
Kata kemanusiaan adalah sebuah kata yang paling tinggi nilainya
dalam perbendaharaan bahasa Indonesia kita. Tanpa kemanusiaan maka manusia
lebih tepat menjadi seekor hewan atau binatang. Rasa kemanusiaanlah yang
membedakan seseorang dengan binatang. Namun perlu dicermati karena rasa dan
sifat kemanusiaan ini menyebabkan manusia menempuh perjalanan hidupnya dengan
cara fluaktuatif. Berbeda dengan kehidupan makhluk biologis lainnya, termasuk
binatang dan tumbuh-tumbuhan, bahkan termasuk bangsa jin dan malaikat.
Satu-satunya manusialah yang dapat ketegori sebagai makhluk eksistensialis.
Hanya manusia yang bisa naik turun martabatnya di mata Allah, Tuhan YME.
Manusia bisa turun martabatnya lebih hina dari pada binatang (asfla safilin).
Akan tetapi manusia juga bisa mencapai ketinggian paling puncak (ahsan taqwim)
seperti yang pernah dicapai Nabi Muhammad Saw, naik ke puncak Adr al-Muntaha.
Malaikat Jibril yang ditugasi Tuhan mendampinginya memohon maaf tidak bisa
mendampingi Rasulullah naik ke puncak karena kedua sayapnya sudah terkapar
tanpa kekuatan ener. Sebaliknya Nabi Muhammad Saw terus melejit hingga Sdr
al-Muntaha, tempat yang didambakan para pencari Tuhan, sebagaimana diabadikan
Tuhan dalam ayat: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya
pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan
kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah
Maha Mendengar lagi Maha Melihat". (Q.S. al-Isra'/17:1).
Tuntutan
dan tuntunan sila kedua ini merupakan ciri khas masyarakat Indonesia. Meskipun
bangsa ini dikaruniai luas wilayah strategis berikut dengan kekayaan alam luar
biasa tetapi tidak membuatnya sombong dan angkuh. Sebaliknya keindahan alam
dengan aneka rupa warna kembang mempengaruhi kepribadiannya sebagai warga
Indonesia yang ramah dan santun. Sikap kemanusiaan yang dikembangkan, bukan
manusia bebas dan liberal yang cenderung arogan dan individualistik tetapi
warga bangsa yang memiliki otonomi dan kemandirian sebagai insan-insan yang
bertanggung jawab. Satu sisi warga bangsa Indonesia terkesan sangat lebuk dan
bijaksana tetapi saat bersamaan sebagian warga bangsa Indonesia juga memiliki keangkuhan,
individualism, dan sekularis. Selain memiliki unsur kemanusiaan, manusia
Indonesia juga perlu melengkapi dirinya dengan dengan sikap keadilan dan
keadaban publik dan individu yang tinggi. Sila kedua ini harus dipertahankan
karena itulah hakekat kepribadian bangsa Indonesia.
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia























