Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Akomodatif Tetapi Kritis
Salah satu kekuatan ajaran Islam ialah mudah beradaptasi dan
mengakomodir (tawaquf) dengan nilai-nilai lain tetapi tetap kritis. Tawaquf
artinya berhenti mempersoalkan suatu masalah dengan cara mengambil salah satu
opsi yang terbaik di antara berbagai opsi yang ada, meskipun opsi itu belum
memuaskan semua pihak. Tawaquf juga berarti mengintegrasikan unsur-unsur
kebenaran yang ada di dalam berbagai opsi lalu ditetapkan sebagai pegangan
sementara. Jika pegangan itu sudah terbukti mendatangkan keharmonisan berbagai
pihak maka pegangan ini bisa menjadi permanen dan legitimed. Tawaquf bisa
menjadi jalan keluar terhadap sebuah masalah krusial yang terjadi di dalam
masyarakat. Taqauf dalam Islam harus disertai dengan kriteria dan diterapkan
secara kritis. Tawaquf tanpa kritis bisa menjebak kita ke dalam sikap
sinkretisme, bid'ah, dan khurafat. Akan tetapi terlalu kritis dan menekankan
keunggulan identitas bisa menyebabkan penolakan dan resistensi nilai-nilai
lokal.
Sinkretisme ialah penggabungan beberapa nilai-nilai dari luar
dengan nilai-nilai Islam yang selama ini dipegang. Sinkretisme yang ditekankan di
dalam tulisan ini ialah sinkretisme agama, yaitu penggabungan beberapa paham
atau aliran agama atau kepercayaan, diramu menjadi satu kesatuan dan bekerja
sebagai suatu sistem nilai religious baru pada diri seseorang atau suatu
masyarakat. Mungkin saja sinkretisme itu penggabungan satu atau beberapa agama
sekaligus, sehingga tampak adanya sintesa antara suatu kelompok ajaran dan
kelompok ajaran agama lain. Contohnya penggabungan antara ajaran Islam dengan
aliran atau ajaran yang tidak sejalan dengan doktrin Islam sebagai agama
tauhid. Contoh sinkretisme antara lain ialah gnosticisme yang mencampurkan
antara filsafat Yunani, agama Yahudi dan agama Kristen di Eropa dan Amerika
Utara. Ada juga aliran Buddha Mahayana yang merupakan pencampuran antara ajaran
agama Budha dengan Hindu pemuja Dewa Syiwa. Dalam Islam praktek tarekat dan
amalan tasawuf sering juga dituding mengakomodasi praktek sinkretisme karena
sering dijumpai adanya kemiripan dengan praktik, misalnya metode meditasi
sangat dekat dengan metode tafakkur dan tadzakkur.
Islam bukan
sistem ideologi yang bisa dibentuk berdasarkan persepakatan sang users atau
stekehorders. Islam yang oleh pemeluknya diyakini dari Tuhan Yang Maha Esa dan
Maha Mutlak, sehingga kelompok agama tertentu, khususnya agama-agama anak-anak
cucu Nabi Ibrahim, yang biasa disebut Abrahamic Religions. Agama-agama ini
mempertahankan orisinalitas ajaran agamanya karena mereka sangat yakin agama
ini bukan ciptaan manusia tetapi turun dari langit, melalui nabi atau rasul,
dan lebih khusus lagu memiliki kitab suci. Apa yang tertera di dalam kitab suci
begitulah adanya sebuah agama, tidak perlu diotak-atik lagi.
Dalam Islam, sinkretisme ajaran bisa berimplikasi syirik, yaitu penyekutuan terhadap Tuhan. Sinkretisme bisa juga dianggap sebagai sebuah bid'ah dan khurafat. Seorang muslim tidak bisa mencampur ajaran agamanya dengan agama lain. Karena itu, ada sejumlah agama yang dipandang sebagai agama abal-abal, karena dimensi keislamannya tidak lagi utuh tetapi sudah mengakomodasi sejumlah praktek dan ajaran dari agama lain. Cotonya, agama Syik dan agama Bahai, meskipun terdapat persamaan tertentu bahkan diduga unsur persamaan itu adalah memang berasal dari ajaran Islam tetapi dipadukan dengan ajaran agama lain, sehingga Islam tidak mengakuinya sebagai agama Islam.
sumber: detik.com
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia






















