Etika Suksesi (3)
Sepeninggal Utsman ibn
Affan, Ali bin Abi Thalib tampil melanjutkan kepemimpinan dunia Islam. Ia
berkuasa selama kurang lebih empat tahun. Ia meninggal di dalam suasana umat
yang sedang terpecah belah. Sepeninggal Ali, kepemimpinan diambil alih oleh
Muawiyah bin Abi Sufyan melalui kekuatan pedang. Selanjutnya ia membentuk
sistem pemerintahan kerajaan yang suksesinya berlangsung secara turun temurun
tanpa melalui proses musyawarah. Demikian seterusnya sampai daulat Umayyah
ditaklukkan oleh Daulat Abbasyiah yang juga menganut sistem monarchi.
Dari cuplikan sejarah di atas dapat difahami bahwa Islam sepertinya
tidak memiliki suatu sistem yang baku di dalam hal penentuan siapa sumber dan
pelaksana kekuasaan, apa dasarnya, bagaimana cara menentukan dan kepada siapa
kewenangan melaksanakan kekuasaan itu diberikan, kepada siapa pelaksana itu
bertanggung jawab, dan bagaimana bentuk tanggung jawabnya. Pertanyaan seperti
ini ditambah dengan pengalaman sejarah Nabi dan para sahabat dan penerusnya
mempersulit setiap orang yang akan memikirkan sebuah konsep negara Islam.
Sejarah suksesi dalam Islam tidak linial dan tidak tunggal melainkan beragam.
Tidak adanya penjelasan apalagi ketegasan
mengenai suksesi di dalam Islam menjadi isyarat bahwa urusan suksesi adalah
masalah kontemporer dan terkait dengan obyektifitas perkembangan masyarakat.
Masalah suksesi dapat dikategorikan sebagai urusan duniawi yang dalam
penyelesaiannya Nabi pernah mengatakan: Antum a'lamu bi umuri dunyakum (kalian
lebih tahu menyangkut urusan keduniaannya). Siapa tahu dan kita berharap,
Indonesia bisa menyumbangkan model suksesi yang ideal bagi setiap negara,
khususnya negara-negara muslim. Kredibilitas pemilu yang akan datang akan ikut
menentukan obsesi itu.
Dari pengalaman suksesi Nabi sampai Ali ibn Abi Thalib dapat disaksikan bagaimana pluralnya pengalaman suksesi di dalam dunia Islam. Padahal, masa Nabi dan masa sahabat sering dipersepsikan sebagai peletakan fundasi awal masyarakat Islam. Apa yang terjadi di dalam generasi awal muslim, yakni di masa Nabi dan sahabat, diharapkan menjadi pedoman di dalam berbagai aspek kehidupan dunia Islam pada masa berikutnya. Akan tetapi dalam dunia politik, khususnya pengalaman suksesi pergantian kepemimpinan, samasekali tidak ditunjukkan sebuah pengalaman baku yang dapat dijadikan standar. Silih berganti terjadi pergantian tak satu pun yang sama, artinya setiap pergantian tokoh pemimpin memiliki kasus pemilihannya seniri. Apakah ini isyarat bahwa suksesi tidak mesti terikat pada salahsatu metide, atau harus mengikuti satu-satunya metode? Jawabannya ternyata ialah diserahkan kepada kondisi obyektif dan situasi masyarakat setempat. Jika dalam keadaan darurat menempuh pemilihan darurart dan jika dalam kedaan stabil dan normal mengikuti metode yang sesuai dengan keadaan setempat.
Sumber: detik.com
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia






















