Etika Suksesi (2)
Setelah Abu Bakar, kepemimpinan beralih ke Umar
bin Khaththab, yang kemudian menjabat selama kurang lebih empat tahun. Dalam
masa pemerintahan Umar, terjadi peristiwa tragis. Ia ditikam dengan enam kali
tusukan oleh seorang keturunan Persia bernama Fairus, yang lebih dikenal dengan
Abu Lu'lu'. Mengetahui dirinya sudah tidak berdaya, seperti halnya pendahulunya
Abu Bakar, ia meminta sahabat untuk bermusyawarah membicarakan bakal
penggantinya.
Semula kalangan
sahabat mengusulkan putranya yang dikenal cerdas, yaitu Abdullah bin Umar,
tetapi Umar menolak dengan mangatakan: "Cukup hanya seorang dari keluarga
Umar yang menjadi khalifah". Lalu musyawarah dilakukan dengan enam orang
tim formatur yang ditunjuk Umar dan ditambah putranya (Abdullah) yang
dinyatakan tidak punya hak suara. Keenam sahabat itu ialah Ali bin Abi Thalib,
Utsman bin 'Affan, Sa'ad bin Abi Waqqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin
Ubaidillah.
Pertimbangan Umar memilih orang ini karena Nabi pernah menyatakan
orang-orang ini sebagai calon penghuni surga. Nanti formatur ini yang memilih
khalifah. Kalau suara terpilih 4:2 dan yang dua orang itu menolak maka bunuh
orang itu. Kalau perolehan suara yang dipilih draw 3:3 Umar meminta Abdullah
yang menentukannya. Tetapi kalau pilihan Abdullah ditolak, ia minta siapa yang
dipilih oleh Abdurrahman bin 'Auf. Kalau ada yang menolak pilihan itu bunuh
dia, kata Umar. Ternyata suara yang berkembang dari tim formatur itu muncul dua
nama, yaitu 'Utsman bin 'Affan dan 'Ali bin Abi Thalib. Ketika Ali ditawari
oleh tim formatur maka Ali merendah (tidak tegas), dan giliran Utsman didatangi
dia menjawab dengan tegas, "saya bersedia". Akhirnya formatur
menetapkan Utsman sebagai Khalifah ketiga.
Utsman bin Affan
berkuasa cukup lama, 12 tahun. Enam tahun pertama cukup mengesankan dan banyak
prestasi monumental yang dicatat di dalam sejarah. Namun enam tahun terakhir,
seiring dengan usinya makin tua, banyak sekali diintervensi oleh orang-orang
dekatnya di dalam menjalankan roda pemerintahan. Akibatnya muncul gelombang
ketidakpuasan di dalam masyarakat, terutama berkaitan dengan pengangkatan
anggota keluarganya menjadi gubernur di sejumlah daerah.
Puncak ketidakpuasan sekelompok masyarakat ialah Utsman dibunuh
oleh pemberontak, lalu kelompok pemberontak menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai
penggantinya. Namun Ali sebagai orang yang memiliki kearifan yang tinggi,
menolak dikukuhkan oleh pemberontak dan Ali meminta sahabat Ahli Badr (sahabat
utama Nabi yang pernah ikut dalam Perang Badr).
Akhirnya hadirlah tiga sahabat senior, yaitu Thalhah, Zubair, dan
Sa'ad bin Ubadah. Ali kemudian disetujui oleh sahabat utama ini maka
ditetapkanlah Ali sebagai Khalifah keempat ketika keadaan masih dalam keadaan
tidak tenang karena tidak jelasnya siapa sebenarnya kelompok pemberontak itu.
Mu'awiyah bin Abu Sufyan, keluarga Utsman dan gubernur Syiria menolak untuk
membaiat Ali karena dua alasan. Tuntaskan dulu siapa pelaku pemberontak dan apa
hukuman terhadap mereka yang telah membunuh Utsman. Alasan lainnya, penunjukan
hanya segelintir orang tidak lagai memadai, mengingat dunia Islam sudah
berkembang sedemikian luas, sehingga para gubernur pun seharusnya ikut
menentukan khalifah.
Kepergian Utsman mulai terasa adanya faksi-faksi perpecahan umat.
Ini disebabkan oleh semakin banyaknya sahabat-sahabat senior yang meninggal.
Tokoh-tokoh muda yang tidak ikut di dalam suka duka perjuangan di masa-masa
awal Islam mulai bermunculan. Sementara dunia Islam juga semakin meluas jauh
dari pusat heard land tanah Arab, Sebagian sahabat senior ikut menyebar ke
daerah-daerah baru meninggalkan kota Madina.
Sumber: detik.com
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia






















