Epistimologi Khidhir
Epistimologi Khidhir tidak lagi mengandalkan logika. Bukannya Khidhir anti logika tetapi sudah melewati fase logika itu. Selama orang masih berkutat di dunia logika maka selama itu sulit untuk menembus hijab-hijab yang jumlahnya menurut hadis Nabi sebanyak 70 lapis. Menurut Imam Al-Gazali, ilmu hushuli, yaitu ilmu yang hanya diperoleh melalui olah nalar, tidak disertai olah batin, akan menjadi hijab yang yang amat tebal untuk ditembus para pencari Tuhan (salikin). Dengan kata lain, ilmu-ilmu logika sulit mengantarkan seseorang untuk menyingkap tabir rahasia Tuhan (mukasyafah).
Khidhir meninggalkan Musa merupakan peristiwa simbolik. Khidhir tidak memberikan ijazah kelulusan terhadap muridnya, Musa, bahkan terkesan gagal dengan ketidak mampuannya mengikuti aturan Khidhir, akan tetapi justru itu merupakan "tanda lulus" agar Musa mau menyadari bahwa di atas langit masih ada langit. Dengan begitu, Musa terus akan mencari sendiri jalan ma'rifahnya menuju puncak ketinggian. Karena memang semakin ke puncak semakin memerlukan pendekatan dan kemampuan personal. Mursyid atau sang guru biasanya hanya menuntun sampai ke leher gunung tetapi ke puncak diperlukan kekuatan pribadi. Sama dengan Jibril, hanya mengantar sampai ke maqam khusus para malaikat, tetapi ke puncak (Sidratil Muntaha) Nabi Muhammad ditentukan sendiri jalannya oleh Sang Pengundang, Allah Swt. Fungsi Khidhir terhadap Nabi Musa seperti fungsi Jibril terhadap Nabi Muhammad Saw, yaitu mengantar ke leher gunung untuk sampai ke puncak seorang diri.
Sebagai seorang awam, pelajaran berharga dari kisah Khidhir dan Nabi Musa ialah: 1) Berikanlah kesempatan kepada pembawa amanah untuk meneruskan program-programnya tanpa harus banyak diintrupsi. 2) Di atas langit ada langit, tidak boleh seseorang merasa diri serba hebat sendiri. 3) Jangan pernah memandang enteng orang-orang yang kelihatan biasa-biasa, karena boleh jadi ia tidak populer di bumi tetapi populer di langit. 4) Sekolah profesional tidak mesti harus di dalam bangunan yang megah. Penjelasan fauna dan flora di papan tulis atau layar monitor, tidak bisa mengalahkan pengenalan langsung secara visual obyek itu di lapangan. 5) Jangan berhenti pada kecerdasan intelektual karena tidak banyak artinya dibandingkan dengan kecerdasan spiritual. 6) Orang pintar belum tentu arif. Kearifan lebih banyak menyelesaikan persoalan daripada kepintaran.
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia























