Diplomasi Surat-menyurat Nabi
Etika Nabi di dalam berdiplomasi tergambar juga di dalam redaksi surat-menyurat Nabi ke beberapa relasi politiknya, terutama para pemimpin negeri di sekitar Timur Tengah, termasuk pemimpin kota-kota penting dunia saat itu. Yang menakjubkan dari Nabi Muhammad saw ialah seperti tidak pernah bosan menghampiri umat dan negeri tetangganya dengan berbagai macam komunikasi. Ditolak dengan satu cara ditempuh lagi cara-cara lain, sehingga umatnya sehingga mengundang empati. Meskipun Nabi tidak bisa membaca dan menulis tetapi ia amat cerdas memilih Zaid ibn Tsabit sebagai sekretaris pribadi yang terkenal sebagai ahli bahasa-bahasa asing dunia saat itu. Gagasan-gagasan Nabi dituliskan oleh Zaid lalu dikirim ke pusat-pusat kerajaan strategis pada saat itu. Nabi juga mengirim diplomat-diplomat ulungnya untuk mengantarkan langsung surat itu, sehingga hasilnya sangat luar biasa. Pengalaman Nabi ini menjadi pelajaran berharga untuk kita, apalagi dalam era multi media saat ini.
Raja lain yang mendapatkan surat cinta Nabi ialah Kaisar Heraclius
yang isinya sebagai berikut: "Sesungguhnya aku menyerumu dengan seruan
Islam, maka masuklah ke dalam agama Islam maka engkau akan selamat, dan niscaya
Allah akan membalasmu dengan ganjaran dua kali lipat. Jika engkau berpaling,
maka sesungguhnya bagimu dosa seluruh pengikutmu."
Surat
lainnya ke Raja Najasy, penguasa Habasyah (Ethopia), yang diantar langsung oleh
Amr bin Umayyah bersama Ja'far bin Abu Thalib bersama teman-temannya. Surat
Nabi berisi: "Bismillahirrahmanirrahim, dari MuhammadRasulullah. Yang
mulia Raja Najasyi, aku menyanjungmu, Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia, Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang
Mengaruniakan keamanan, dan Maha Memelihara. Aku bersaksi bahwa Isa putera
Maryam adalah Ruh Allah dan Kalimat-Nya yang ditiupkan kepada Maryam, wanita
yang suci (perawan) lagi baik, yang kemudian mengandung Isa. Aku mengajak
engkau untuk mengikuti dan mengimani ajaran yang aku bawa. Karena aku adalah
utusan Allah. Bersama dengan ini, aku telah mengutus keponakanku Ja'far beserta
sekelompok kaum muslimin untuk menghadapmu. Salam sejahtera bagi orang yang
mengikuti petunjuk-Nya".
Salah satu
surat Nabi juga ditujukan kepada Raja Gassan, Jabalah bin Aiham, yang intinya
mengajak keluarga kerajaan masuk Islam. Akhirnya kesan simpatik yang tertuang
di dalam surat Nabi yang didukung oleh keramahan sang pembawa surat, maka Raja
Gassan bersama keluarganya menyatakan diri masuk Islam. Nabi juga mengirim
surat kepada Raja Thaif itu melalui sahabat Nabi, Jarir bin Abdillah, yang
disampaikan langsung kepada Raja Thaif. Surat ini merupakan surat terakhir Nabi
karena belum kembali Jarir dari Thaif Nabi sudah wafat di belakang. Ia
sebenarnya sudah lama mendengarkan tentang Islam dan setelah membaca surat Nabi
yang berisi ajakan untuk memeluk Islam maka ia sudah menyatakan diri tertarik
untuk masuk Islam. Namun nanti pada masa Umar bin Khaththab ia secara resmi
menyatakan diri masuk Islam bersama 80 orang pejabatnya. Hasil yang dicapai
diplomasi Nabi surat menyurat Nabi sangat besar. Ini bisa diukur melalui respon
balik yang ditunjukkan tokoh-tokoh yang membalas surat Nabi.
Sumber: detik.com
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia






















