Butiran Hikmah Santri PKU-MI (4): Memposisikan Kemanusiaan, Keberagamaan dan Peradaban menurut al-Habib ‘Ali Zainal ‘Abidin al-Jufri

Satu momen luar biasa bagi keluarga besar Masjid Istiqlal terkhusus pengelola dan mahasiswa PKU-MI, menikmati suguhan istimewa keluasan ilmu dan keteduhan pandangan al-Habib ‘Ali al-Jufri secara langsung. Seorang da’i kondang dari kalangan Habaib asal Hadhramaut yang dikenal begitu luas keilmuannya dan santun perangainya. Hari ini, Rabu 24 Agustus 2022 beliau hadir langsung ke salah satu ruangan pertemuan VVIP pada lantai dasar masjid Istiqlal pada sebuah seminar Internasional yang sengaja digagas memanfaatkan kedatangan beliau berkunjung ke Indonesia.


Tulisan ini, sejatinya hanya oret-oretan pribadi mengantisipasi lemahnya kemampuan memori kami mengingat sajian pengetahuan dari para Mahaguru yang memberikan uraian. Pengganti catatan perkuliahan yang tentu sama sekali tidak berniat menggurui para pembaca sekalian. Jika tulisan ini, kurang jelas dan tidak dapat dipahami. Maka yakinlah bahwa ketidakjelasan itu adalah kekurangan kami dalam menorehkan catatan, bukan berasal dari al-Habib ‘Ali sebagai narasumber. Kalaupun toh ini bermanfaat, semoga ini beroleh rahmat dan ridho dari Allah Swt.


Bagi kami secara pribadi, mengibaratkan al-Habib Ali al-Jufri sebagai lautan ilmu yang mausu’i (ensiklopedis). Sosok ulama masa kini yang matang dari sisi ilmu alat dan dasar keilmuan Islam, mendalam dan mengakar sisi spiritualnya, lugas jelas santun paparan dan argumentasinya juga paham dan sangat update dengan isu-isu umat terkini. Satu hal menarik dalam kesempatan paparan beliau di Istiqlal hari ini, dimana beliau mulai dari pemaknaan istilah inti dari tema yang disajikan. Setidaknya beliau menggarisbawahi beberapa istilah diantaranya: al-tawassuth; al-insaniyah; al-ab’ad al-hadhariyah; dan daur al-‘Ulama’.


Lebih awal, al-Habib ‘Ali mendudukkan pemaknaan wasath atau moderat secara lebih pas. Pertengahan bisa jadi hanya terpaku pada anggapan bahwa dia berada di tengah-tengah, tidak condong ke arah kiri dan kanan begitupula tidak tinggi dan tidak pula rendah. Pemaknaan tersebut bisa jadi ada benarnya apabila dikaitkan bahwa ajaran Islam adalah pertengahan yang tidak ifrath dan tafrith (pertengahan antara radikal dan liberal). Namun sesungguhnya pemaknaan wasath dalam kaitannya dengan agama Islam lebih bermakna arqa (posisi yang paling baik) yang mana ketika kita analogikan dengan sebuah gunung, maka pertengahannya adalah puncak tertinggi.


Sikap moderat atau al-tawassuth ataupun pemurnian sikap moderat sesungguhnya adalah sebuah dorongan manusiawi. Yang pada dasarnya, melihat kemanusiaan harus utuh mencakup lima komponen inti, yaitu roh; qalb; nafs; ‘aql; dan jasad. Roh dituntun untuk mencapai ahwal al-mahabbah; qalb dilatih untuk bisa melampaui 10 maqamat; nafs ditempat untuk bisa merambah 7 tingkatan; ‘aql diarahkan dan dididik hingga dapat senantiasa bertafakkur dan tadabbur; serta jasad agar selalu berkhidmah dan istiqamah dalam tugas tersebut.


Sikap radikal sejatinya adalah sebuah masalah pada kondisi kejiwaan seseorang yang dapat tumbuh pada semua bentuk pemahaman maupun agama. Sikap yang didasari oleh sikap radikal, juga akan mewariskan dan melahirkan tindakan radikal pula sebagai akibatnya apapun latar belakangnya. Sikap radikal dari penjajah misalnya membantai satu kaum, akan melatarbelakangi perlawanan yang radikal pula dari pihak yang sebelumnya terdampak oleh keradikalan.


Maka sikap moderat sesungguhnya adalah upaya memurnikan kemanusiaan manusia mencakup 5 komponen di atas agar berada pada level yang arqa (terbaik) dan itu perlu didahulukan daripada memurnikan keberagamaan seseorang. Tolong digarisbawahi “Kemanusiaan lebih didahulukan daripada urusan keberagamaan” dan bukan “lebih didahulukan daripada Agama, melainkan keberagamaan”. Karena Agama pada hakikatnya adalah paling utama dari yang utama. “al-Insaniyah qabla al-tadayyun wa la aqulu qabla al-Din”. Sebagaimana ungkapan al-Habib ‘Ali al-Jufri.


Adapun al-ab’ad al-Hadhariyah (dimensi peradaban) sesungguhnya bukanlah yang bersifat materi sebagaimana dipikirkan banyak pihak. Seakan-akan ukuran kemajuan peradaban satu bangsa apabila dia kuat secara ekonomi dan menguasai teknologi. Semua itu hanyalah buah dari peradaban dan bukan peradaban pada hakikatnya. Peradaban adalah serangkaian perangkat pemikiran dan nilai yang mencakup tatanan kemanusiaan dan kehidupan. Teknologi hanyalah buah ataupun hasil dari peradaban, dan bukti bahwa teknologi bukan peradaban karena pemanfaatannya tergantung maksud dan peruntukan siapa yang menggunakannya. Bubuk mesiu, yang sekarang kita kenal menjadi bahan baku senjata mematikan. Ternyata sejarah ditemukannya justeru untuk menolong nyawa manusia. Kesadaran akan hal tersebut seharusnya dapat memotivasi kita untuk lebih giat belajar dan menguasai semua cabang keilmuan terlebih ilmu Keislaman, karena kita mempunyai ajaran Islam yang sesungguhnya menjadi pondasi Peradaban yang sungguh luar biasa.


Istilah terakhir yang kemudian digarisbawahi adalah peran ulama. Peran Ulama sesungguhnya terangkum dalam satu ungkapan singkat dan padat, yaitu sebagai haddam atau khadim (pelayan). Pelayan untuk siapa, pelayan majikan besar dan kecil. Majikan besar dalam hal ini adalah Rasulullah Saw., kemudian majikan kecilnya adalah Umat Islam. Ulama benar-benar dituntut mampu melayani majikannya secara baik dan dituntut mampu mengurai secara tepat nilai kemanusiaan, keberagamaan dan peradaban agar tetap berada pada posisi tawassuth. Setidaknya, ada tiga pondasi dakwah yang harus dimiliki seorang Da’I ataupun Ulama, yaitu al-tawadhu’; al-mahabbah; dan al-rahmah.


Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia


Bagikan :
Penulis
Foto User
Muhammad Amri, Lc., M.Th.I.

(muhammadamrimapk@gmail.com)

Ad