Butiran Hikmah Santri PKU-MI (3): "Dilema" NU/Muhammadiyah Pragmatis
Bagi kami, mahasiswa PKU-MI. Pelataran masjid Istiqlal yang mengarah ke Monas menjadi spot favorit untuk bersantai sejenak.
Mengingat awal Ramadhan tinggal menghitung hari, salah satu teman membuka pembicaraan dengan bertanya "Ramadhan kali ini mulai kapan ya..?". Spontan teman yang memiliki spesifikasi background keilmuan ilmu falak menjelaskan.
Muhammadiyah yang berdasarkan hisab, sejak beberapa waktu lalu telah menetapkan 1 ramadhan 1443 H akan bertepatan dengan 2 April 2022. Sedangkan NU dan Pemerintah menunggu pelaksanaan ru'yah terlebih dahulu.
Masih penasaran, pertanyaan-pun berlanjut. "Apakah Muhammadiyah sama sekali tidak mengenal ru'yah ya...?". Kembali ditimpali "sebenarnya mengenal ru'yah, namun karena memang yang dijadikan standar adalah "hisab hakiki wujudul hilal" jadinya tetap saja tidak berpengaruh".
Sementara NU menggunakan "ru'yatul hilal bi al-fi'li yang sesungguhnya juga tetap menyandingkan dengan data hisab". Penentuannya menitikberatkan pada hasil ru'yah. Metode kedua (ru'yatul hilal) inilah yang kemudian banyak diakomodir oleh Pemerintah RI dalam penentuan awal Ramadhan, yang mensyaratkan "imkan al-ru'yah" minimal kadar ketinggian hilal di atas 2 derajat.
Berdasarkan data hisab yang ada sekarang, awal Ramadhan 1443 H penetapan NU dan Pemerintah terindikasi akan berbeda dengan penetapan Muhammadiyah.
Satu teman lainnya yang sedari tadi diam menyimak menyahut sembari tertawa bernada canda "hahaha, kalau gitu awal Ramadhan saya berbeda dululah dengan pendapat Muhammadiyah". Gelak tawa serentak dari kami berlima sambil kutimpali "Entar akhir Ramadhanlah ya, baru ikut...".
Obrolan ringan khas candaan mahasiswa S 3 PKU-MI ini pun bagiku cukup menginspirasi. Potret kesetiaan terhadap NU ataupun Muhammadiyah, nyatanya bisa luluh pada momen-momen heboh seperti ini. Sering kali muncul pihak yang pada awal Ramadhan mendaku NU lantaran ingin terkortin hari awal puasanya, justru di akhir Ramadhan tiba-tiba berubah menjadi pengikut Muhammadiyah demi mencari legitimasi untuk bisa berlebaran lebih cepat.
Semoga saja dualisme putusan ini, suatu saat akan bisa didekatkan. Terlampau berlarut hal ini mengombang-ambing umat, terlebih bagi kalangan awam yang kebingungan. Khawatir bukannya akan mendewasakan terhadap dinamika ragam pendapat dalam Islam, justru dapat menggiring untuk beragama secara pragmatis berbasis keuntungan sesaat.
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia























