Butiran Hikmah Santri PKU-MI (2): Ulama di Mata Awam

Satu kesempatan di sela istirahat  materi perkuliahan PKU (Pendidikan Kader Ulama) di Masjid Istiqlal, satu orang petugas cleaning service yang berseragam abu-abu biru tiba-tiba bertanya. Dengan rona penasaran beliau menanyakan “ikut acara apa dek…?”, sedikit terperanjat sembari membereskan barang bawaan seusai mengambil wudhu, saya menjawab “ooo iya Pak, saya bukan menghadiri acara. Tapi ikut kuliah di sini” kataku. Bukannya puas dengan jawaban yang saya berikan, Bapak itu malah bertanya kembali “Kuliah dimana?”. Gumamku dalam hati, wah… mungkin Bapak ini kurang update dengan kegiatan di Istiqlal. Kujawab saja dengan santai “program PKU Pak.”. Spontan dengan nada yang semakin penasaran Bapak itu bertanya lagi “apa itu PKU…?”, kujawab saja sambil senyum “he..he.. Pendidikan Kader Ulama Pak.” Tanpa kuduga, Bapak itu menimpali dengan sedikit sinis, “wah… ulama sekarang dihasilkan lewat pengkaderan ya. Semoga saja-lah bisa bermanfaat” katanya. Karena keburu shalat Jama’ah Ashar dimulai, saya cukup meng”Amin”i dan berlalu pergi meninggalkan Bapak tersebut.

Setelah shalat Isya berjama’ah, barulah kami diantarkan kembali ke asrama, menempuh jarak yang cukup jauh menikmati hiruk-pikuk kemacetan Jakarta. Tanpa sengaja, sambil asyik menatapi kelap-kelip lampu kendaraan dan gedung-gedung pencakar langit yang kami lewati. Ungkapan Bapak tadi tiba-tiba kembali terngiang di benakku. Saya pun mencoba mencermati apakah gerangan pesan utuh yang mau disampaikan Bapak paruh baya tadi.

Hal pertama yang muncul di benakku, wah… kayaknya Bapak tadi meragukan kualitas peserta yang ikut pada program ini. Serasa “mengaduk-aduk” ego pribadi ini, ingin rasanya membungkam celetukan Bapak tadi secara langsung. Ada rasa kesal dalam hati, kenapa tadi tidak langsung menimpali dengan “menohok” ya.., menjelaskan ke Bapak itu bahwa kami layak kok ikut program ini. Ingin rasanya memperkenalkan “kehebatan dan segudang prestasi” yang telah diraih, biar Bapak itu sadar bahwa dia salah menilai. Namun, kayaknya itu sia-sia saja (mencoba berpikir lebih jernih). Berusaha tenang dan menasihati diri, jangan mudah berprasangka buruk kepada orang lain yang belum tentu berpikiran buruk kepada kita. Lagian wajarlah kalau Bapak itu ragu denganku, toh masih sangat jauh untuk dapat merasa diri sebagai Ulama. Seandainya pun Bapak itu mendengar penjelasanku, mungkin saja itu semua tidak penting baginya.

Terdiam sejenak dalam gumamku sendiri, jangan-jangan yang dimaksud Bapak tadi meragukan program “pengkaderan Ulama”-nya. Tapi aneh juga rasanya, orang yang sehari-hari berada di Istiqlal tidak menyadari akan pentingnya regenerasi Ulama. Meski memang terkesan aneh, masa iya Ulama dihasilkan melalui “pengkaderan”. Namun inilah salah satu usaha konkret yang bisa dilakukan saat ini, mengisi kekurangan tokoh agama Islam yang mumpuni di masyarakat yang sejauh ini masih belum terpenuhi. Terlebih, akibat hantaman covid-19 yang melanda. Sekian banyak Ulama karismatik di beberapa daerah yang terpapar, bahkan tidak sedikit meninggal dunia hingga kisaran ratusan orang. Sementara itu, Ulama adalah peran yang sangat urgen di masyarakat yang tidak mungkin sesaat itu langsung bisa dicarikan penggantinya. Kalaupun ada pengganti, belum tentu bisa memenuhi kriteria keulamaan dan keilmuan yang diharapkan masyarakat.

Masih berlanjut dalam perjalanan pulang dari Istiqlal ke asrama. Kuteringat sosok Ulama karismatik Sulawesi Selatan, Almarhum AG. KH. Muh. Sanusi Baco, Lc. (Ketua MUI Wilayah Prov. Sulawesi Selatan yang tidak tergantikan hingga wafatnya). Dalam salah satu ceramah beliau, pernah bercerita sebuah pengalaman. Beliau pernah ikut dalam kendaraan yang digunakan keluarganya ke salah satu pasar di bilangan kota Makassar. Sembari menunggu di dalam mobil, tiba-tiba terkaget dengan seorang tukang becak yang menyerempet mobil beliau yang sedang parkir. Sebagaimana lumrahnya pemilik kendaraan yang diserempet, beliau ingin turun me”labrak” tukang becak tadi yang teledor. Ketika ingin benar-benar turun, tiba-tiba beliau tertegun dan menahan diri. Beliau melanjutkan ceritanya, “Masa iya, seorang ketua Majelis Ulama merendahkan dirinya dengan marah-marah kepada seorang pengayuh becak di tempat umum hanya karena goresan kecil yang tidak sengaja dilakukan”. Akhirnya beliau urung dan membiarkan tukang becak itu pergi dan melepasnya dengan senyuman.

Melihat laju bus yang sudah hampir tiba di asrama. Kuambil kesimpulan dalam gumamku yang menerawang ke mana-mana. Derajat keilmuan dan status keulamaan adalah satu dimensi yang sangat abstrak dan sama sekali tidak dapat dijadikan kebanggaan semu. Menilai dan menguji kadar keulamaan tidak selalu berkutat pada forum keilmuan yang resmi ataupun majelis bahtsul masa’il. Sesekali potret keulamaan itu justru nampak tergambar dari interaksi keseharian dengan orang-orang yang menilai keulamaan dari hal-hal sederhana dan terukur di mata orang awam.


Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia


Bagikan :
Penulis
Foto User
Muhammad Amri, Lc., M.Th.I.

(muhammadamrimapk@gmail.com)

Ad