Zuhud Politik
Hai orang-orang yang
beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi
mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan
jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh
jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang
mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu
panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah
(panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka
mereka itulah orang-orang yang lalim. (Q.S. al-Hujurat/49:11).
Hai orang-orang yang
beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka
itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan
janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah
seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah
kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Q.S. al-Hujurat/49:12).
Kedua ayat di atas
mengesankan kekuatan kezuhudan politik di dalam Islam. Banyak daerah terlarang
yang harus dihindari jika seseorang akan terjun di dalam dunia politik. Zuhud
sesungguhnya berarti berpalingnya jiwa dari dari dunia tanpa beban. Zuhud
berarti mengosongkan hati dari cinta kepada dunia dan semua keindahannya, serta
mengisinya dengan cinta kepada Allah dan makrifah kepada-Nya. Zuhud politik
bisa diartikan menghilangkan beban jiwa dan pikiran berbagai target politik dan
mengisinya dengan kesadaran spiritual yang lebih mendalam. Ini tidak berarti
harus menjauhi dunia politik tetapi menghindarkan diri untuk terpukau kepada
daya tarik politik sehingga tidak menyisakan ruang dan energi untuk lebih
mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kepuasan politik adalah fenomena sesaat, ketika diri kita masih
memiliki potensi untuk diperhitungkan orang lain, namun yang harus disadari
bahwa perjalanan umur tetap berjalan dan semakin dekat kita kepada kematian.
Kita diminta untuk mempersiapkan bekal untuk menjalani kehidupan abadi di
akhirat. Tanpa persiapan yang memadai pasti akan berakhir dengan penyesalan
berat. Oleh karena itu, kita perlu menyusun program hidup dengan tetap
memelihara keseimbangan untuk kepentingan kehidupan duniawi pada satu sisi dan
untuk kepentingan kehidupan di akhirat pada sisi lain.
Sehubungan dengan ini, sebuah hadis diriwayatkan dari Sahal ibn
Sa'ad al-Saidi, bahwa datang seorang sahabat bertanya kepada Nabi, "Wahai
Rasulullah tunjukkanlah kepadaku suatu pekerjaan yang apabila aku
mengerjakannya maka Allah dan manusia akan mencintaiku". Rasulullah
menjawab: "Berzuhudlah engkau terhadap dunia niscaya Allah mencintaimu.
Dan Berzuhudlah engkau terhadap apa-apa yang ada pada manusia niscaya mereka
mencintaimu". (H.R.Ibnu Majah). Al-Qur'an juga memperingatkan: "Hai
manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah
kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai
menipu, memperdayakan kamu tentang Allah". (Q.S. al-Fathir/35:5).
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan
sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka
mengetahui". (Q.S. al-'Ankabut/29:64). "Katakanlah: "Kesenangan
di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang
bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun". (Q.S. al-Nisa'/4:77).
Sumber: detik.com
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia






















