Tidak Boleh Menghina dan Menelantarkan Non-Muslim
Sangat tegas Al Quran menyatakan: Dan sesungguhnya telah Kami
muliakan anak-anak Adam/Q.S. Al-Isra'/17:70). Siapapun yang merasa anak cucu
Adam tidak boleh menelantarkan apalagi menghina kelompok non-muslim, apapun
agama, kepercayaan, etnik, dan kewarganegaraan orang itu. Ayat lain juga
menegaskan: Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang
beriman/Q.S. al-Syu'ara/26:114). Barangsiapa yang membunuh seorang manusia,
maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang
memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara
kehidupan manusia semuanya/Q.S. al-Maidah/5:32).
Dalam kesempatan lain, Aisyah menceritakan suatu ketika kelompok Yahudi
datang kepada Nabi sambil mengatakan: "Assamu 'alaikum" (Kebinasaan
bagimu). Memang sepintas kedengaran dengan kata "Assalamu 'alaikum"
(keselamatan bagimu). Aisyah menjawabnya: "Wa 'alaikumussam walla'nah"
(kebinasaan dan laknat Allah bagimu). Nabi menegur 'Aisyah, isterinya, dengan
mengatakan: "Pelan-pelan wahai 'Aisyah, sesungguhnya Allah Swt menyukai
kelembutan di dalam setiap persoalan". 'Aisyah menjawab: "Apakah
engkau tidak mendengarkan apa yang mereka katakan kepadamu?". Nabi
menjawab: "Kamu sudah menjawab mereka dengan "Wa 'alaikumussam".
Dua kasus di atas cukup menjadi bukti bagaimana Nabi teladan umat
Islam begitu ramah dan lembut memperlakukan orang-orang non-muslim. Ibunya
Asma', sang mertua Nabi diminta untuk memperlakukan secara terhormat dan
manusiawi kepada ibunya, sungguhpun ia seorang non-muslim. Bahkan Nabi meminta
agar sering mendatangi untuk bersilaturahim dengannya. Sekalipun berbeda agama,
kalau kerabat tetap harus berprilaku baik dan respek terhadap mereka. Agama
tidak boleh menjadi jarak antara satu sama lain. Yang penting di sini ada
saling pengertian.
Kisah
kedua, nyata-nyata kelompok non-muslim yang bertamu kepada Nabi menunjukkan
itikad kurang baik, mendoakan Nabi binasa, lalu 'Aisyah membalasnya dengan
kalimat sepadan. Nabi bukannya menegur tamu yang kurang terpuji itu tetapi
malah menegur isterinya agar tetap bersikap lemah lembut terhaap tamu. Nabi
menyadari betul apa arti kemanusiaan dan bagaimana cara menaklukkan jiwa yang
keras. Nabi sering membalas orang yang selalu melancarkan serangan dengan
cara-cara lembut, dan ternyata hasilnya sangat menakjubkan, orang-orang yang
menyerang Nabi itu takluk dengan kelembutan Nabi. Seandainya Nabi melawannya
dengan kekerasan yang sama maka tentu tidak bisa kita bayangkan apa yang akan
terjadi. Itulah pelajaran kepribadian dari Nabi.
Jika setiap
kekerasan dihadapi dengan kekerasan, jika setiap cemohan dibalas dengan
cemohan, dan jika setiap penghinaan dibalas dengan penghinaan, maka ketegangan
akan mewarnai kehidupan kita. Kadang-kadang kita memang harus menempatkan diri
kita sebagai "kakak" yang kadangkala harus mengalah terhadap
"adik". Jika ada orang menghina kita, anggaplah mereka itu
"adik" dan kita sebagai "kakak". Pada akhirnya sang adik
akan lebih membutuhkan figure sang "kakak". Yang menjadi masalah
kalau tidak ada yang mau menjadi "kakak", semuanya mau menjadi
"adik". Mari kita berupaya agar kita semua menjadi "kakak",
supaya kehidupan di dalam berbangsa dan bermasyarakat tenteram adanya.
Perbedaan
agama, kepercayaan, aliran, mazhab, dan ikatan primordial tidak boleh
penghalang untuk menjalin silaturrahim satu sama lain. Perbedaan yang terjadi
di antara makhluk Allah Swt harus dianggap sebagai sunnatullah, yang tak boleh
dibantah oleh siapapun. Perbedaan harus dianggap sebagai sebuah rahmat, kalua
perlu kita merayakan perbedaan itu.
Sumber: detik.com
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia






















