Qiyam Lail vs Qiyam Mal

Masuk surga, dapat pahala yang banyak, rezeki yang berlimpah, dibebaskan dari siksa kubur dan api neraka merupakan dambaan setiap muslim di Dunia. Demi mewujudkan cita-cita itu, iman, ilmu, amal, dan takwa senantiasa diperbaiki oleh setiap pribadi muslim. Mereka berusaha supaya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas yang diberikan Allah swt. untuk meraup pahala sebanyak-banyaknya, terutama di bulan Ramadan ini.

Ramadan merupakan bulan keberkahan. Bulan di mana umat Islam berlomba-lomba berbuat kebaikan, karena Allah swt. melipat gandakan pahala perbuatan baik kita dan juga mengampuni dosa-dosa kita selama kita masih mau bertobat. Satu kebaikan yang kita kerjakan, dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan bahkan lebih dari itu, tergantung Allah swt., selama kita menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya.

Ada satu amalan terpopuler di bulan Ramadan, yang senantiasa dilaksanakan oleh umat Islam setelah salat Isya. Amalan ini, dikerjakan pada masa Nabi Muhammad saw. dan para sahabat (Lihat Hadis Shahih Bukhari No. 1129)., hingga masa sekarang ini dan seterusnya hingga akhir zaman, Insya Allah. Nabi Muhammad saw. saja mengerjakan, berarti pahalanya sangat banyak. Amalan populer itu, dinamakan Tarawih, asal katanya ialah rahah yang diartikan lega, enak, rehat (tidak tergesa-gesa), dalam istilah umum, tarawih disebut juga dengan Qiyam Lail.

Qiyam, dalam bahasa Arab adalah bentuk masdar dari kata Qama yang berarti berdiri. Dalam Islam, Qiyam berarti shalat karena pada hukum asalnya, salat itu dikerjakan berdiri, (kecuali ada sebab-sebab yang membolehkannya duduk seperti sakit, dan sebagainya).

Dalam hadis yang diriwayatkan di berbagai kitab Hadis, khususnya kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, Nabi Muhammad saw. berpesan bahwa, ?Siapa yang melakukan salat di malam-malam bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.? (HR. Bukhari No. 37).

Diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, siapa pun pasti mau. Sebagai manusia, kita terkadang sadar melakukan kesalahan, tetapi lebih sering luput (tidak sadar) kalau kita telah melakukan kesalahan. Salah satu cara agar dosa diampuni berdasarkan hadis, yaitu kita mengerjakan Qiyam Lail di bulan Ramadan. (Lihat Fathul Bari Ibnu Hajar Al-Asqalani, Juz 4, halaman 267).

Mendapat keberkahan Lailtul Qadr, tentu menjadi keinginan semua umat Islam di Dunia, terutama kita di Indonesia. Banyak orang saling berlomba memperbanyak amal kebaikan di bulan Ramadan ini, terutama 10 malam terakhir, berbagai macam amalan yang diperbuat, misalnya iktikaf di Masjid disertai zikir, salat Tahajjud dan lain sebagainya. Tetapi, hanya orang terpilih yang bisa mendapatkan keberkahannya, caranya pun tidak seinstan memakan mie instan atau fast food (makanan cepat saji). Butuh kesabaran, kesungguhan dan perjuangan yang tidak mudah dalam mengamalkan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Semakin dekatnya hari raya, semakin banyaknya barang diskon di Mal-Mal ataupun Toko-Toko. Hal itu mengakibatkan Masjid sepi, penceramah menjadi tidak bersemangat karena shafnya semakin maju ke depan, artinya semakin sedikit orang ke Masjid untuk melaksanakan Qiyam Lail. Sebagian orang cenderung memilih ke Mal dibandingkan ke Masjid dikarenakan di Mal, ada yang namanya midnight sale (penjualan tengah malam).

Mal-Mal pun buka hingga larut malam. Sebagian orang yang tersihir, pergi berbelanja karena barang-barang diskon semua, bahkan ada yang sampai melaksanakan Qiyam Lail di dalam Mal, sungguh sesuatu yang unik menurut saya. Apakah Masjid kurang bagus dan nyaman untuk ditempati beribadah? Ataukah kurang pahala dan berkahnya salat di Masjid? Lantas dikemanakan fungsi Masjid yang sebenarnya? Wallahu A'lam.

Saking tersihirnya, mereka pun lupa kalau 10 malam terakhir itu ada satu malam di mana Allah swt. menurunkan keberkahan Lailatul Qadr. Bahkan, ada juga yang tidak melaksanakan Qiyam Lail. Tentunya, jika ingin mendapatkan Lailatul Qadr itu tidaklah mudah. Kira-kira, kita bisa mendapatkan keberkahan Lailatul Qadr jika kita hanya berkecimpung dengan Mal sepanjang malam? Wallahu A'lam.

Inilah yang saya sebut dengan Qiyam Mal, artinya lebih mementingkan ke Mal berbelanja, putar sana sini sampai lupa waktu hingga tidak ada yang dibeli, makan di restoran cepat saji, ataupun bermain-main dibandingkan ke Masjid melaksanakan Qiyam Lail. Padahal, Qiyam Lail merupakan sunnah muakkadah (dianjurkan) oleh Nabi Muhammad saw. dan melaksanakannya secara berjamaah merupakan ijma' sahabat yaitu Khalifah Umar bin Khattab ra.

Islam merupakan agama yang mengajarkan penganutnya yang beragam suku dan ras supaya menjaga ukhuwah (persaudaraan) atau silaturahmi agar tetap kuat dan terjaga dengan sesama manusia. Salah satunya yaitu, dengan berjamaah melaksanakan Qiyam Lail di Masjid, maka hubungan keakraban bisa terjalin. Persatuan antar sesama umat Islam pun bisa terjalin erat supaya bisa mencegah terjadinya konflik, seperti yang terjadi di Negara Qatar dan Negara-Negara Arab yang berlangsung saat ini.

Dengan demikian, umat Islam harus sadar dan kembali memperbaiki amal ibadah kita kepada Allah swt. agar kita bisa mendapat keberkahan Lailatul Qadr didukung dengan baiknya ibadah Qiyam Lail secara berjamaah di Masjid yang kita laksanakan bukan Qiyam Mal. Kita tetap boleh ke Mal, asal Qiyam Lail kita dahulukan dan laksanakan karena iman, ketakwaan dan kecintaan kepada Allah swt. dan kepada Nabi Muhammad saw. Mana yang lebih kita pilih, dapat diskon harga penjualan dari Mal atau dapat diskon penghapusan dosa ditambah dilipat gandakan pahala dan diberi keberkahan Lailatul Qadr oleh Allah swt.?. Tentu, kita pasti memilih diskon penghapusan dosa ditambah dilipat gandakan pahala kita dan diberi keberkahan Lailatul Qadr oleh Allah swt. dan Insya Allah pasti Nabi Muhammad saw. memberikan syafaat bagi kita di akhirat nanti karena? kecintaan kita dengan mengamalkan sunnahnya karena bulan Ramadhan, sudah ingin pergi meninggalkan kita. Maka kita tetap harus istiqamah menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Wallahu A'lam.


Sumber: Amdar, Fikri Haekal. Qiyam Lail vs Qiyam Mal. Tribun Timur, hal. 15.

Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke :

Bank BNI
  • Atas Nama : KABIR LAND TECHNOLOGY.
  • Rekening : 0765893538
Terima kasih buat saudara - saudara yang telah berpartipasi dalam pengembangan sistem ini !.
Bagikan :
Penulis
Foto User
Fikri Haekal Amdar

(fikrihaekalamdar@gmail.com)

Ad