Nilai-Nilai Moral Dalam Ibadah Shalat

Perintah yang mengandung kewajiban melaksanakan ibadah shalat disebutkan berulang kali dalam Al-Qur’an salah satunya dinyatakan dalam surah An-Nisa: 103. “Maka dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu diwajibkan untuk melakukannya pada waktunya atas sekalian orang mukmin”.

Bagi seorang hamba yang meninggalkan ibadah sholat dengan mengingkari kewajibannya akan mendapatkan dosa dan ancaman yang amat besar bahkan dihukumi kafir, meskipun di dalam kehidupannya ia banyak melakukan perbuatan-perbuatan baik, tapi tidak shalat, maka hitungannya hanya baik pada manusia namun tidak berakhlak kepada sang pencipta dan pemberi kehidupan, padahal Dia-lah maha segalanya.

 Tujuan utama dari shalat adalah beribadah kepada Allah sebagaimana firman Allah dalam QS: Az-Zariyat:56, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِAku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”.

 Berdasarkan ayat tersebut sejatinya manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah tanpa memandang  status maupun latar belakang seseorang , baik si kaya, miskin, memiliki kedudukan atau jabatan yang tinggi bahkan orang yang biasa sekalipun, masing-masing individu harus melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Allah yaitu beribadah kepada Allah karena kehidupan akhirat dan surga tidak dapat dibeli dengan materi melainkan dalam bentuk ketaatan, serta ketaqwaan hamba kepada Tuhannya.

Begitu pentingnya ibadah shalat sehingga menempati kedudukan yang sangat agung ia diibaratkan seperti kepala dari tubuh, tanpa kepala, manusia tidak akan mungkin hidup dan anggota badan lainnya tak akan berfungsi.

Rasulullah SAW. Memberikan suatu gambaran perihal keutamaan ibadah shalat seperti sebuah sungai di depan rumah sebagaimana dalam salah satu sabdanya :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَفِي حَدِيثِ بَكْرٍ

أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِن دَرَنِهِ شَيْءٌ قَالُوا لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ قَالَ فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا

Artinya : dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, sedangkan dalam hadis Bakr, ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bagaimana pendapat kalian, sekiranya ada sungai berada dekat pintu salah seorang diantara kalian yang ia pergunakan untuk mandi lima kali dalam sehari, mungkinkah kotorannya masih tersisa?" Para sahabat menjawab; "Kotorannya tidak akan tersisa." Beliau bersabda; "Itulah perumpamaan kelima shalat, yang dengannya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan." (HR. Muslim No. 1071).

Dalam hal ini terkait dengan perintah shalat lima waktu dimana seorang yang mendirikan shalat lima waktu secara sempurna  diibaratkan seperti orang yang mandi lima kali sehari ia akan bersih tanpa kotoran, dosa-dosanya akan berguguran dan dihapuskan oleh Allah dengan kata lain jika dengan mandi membuat badan bersih dari kotoran-kotoran maka shalat mampu membersihkan dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan seseorang. 

Shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab oleh Allah di akhirat nanti jika shalat seorang hamba baik maka seluruh amalannya juga akan ikut diterima namun jika shalatnya buruk maka amalan-amalan yang telah ia lakukan tidak diterima oleh Allah itulah mengapa ibadah shalat sangat penting, maka orang yang melakukan ibadah shalat dengan hati yang ikhlas ia tidak akan menjadikan ibadah shalat sebagai kewajiban lagi melainkan ia menganggap shalat sebagai kebutuhan hidupnya yang harus ada.

Salah satu implikasi dari ibadah shalat yang dilakukan adalah mampu memproteksi diri dari perbuatan keji dan mungkar, karena nilai-nilai yang terkandung dalam shalat, mendidik manusia untuk menyucikan diri dari sifat-sifat buruk substansi dari sholat sendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Shalat juga mengandung makna berupa doa, sebab yang terkandung dalam bacaan shalat adalah doa-doa “ sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah maha mendengar lagi maha mengetahui” (QS: At-Taubah,103),

 Sebagaimana firman Allah dalam QS: al-Baqarah 186.وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ   dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Salah satu upaya manusia agar dekat dengan Rabb-nya adalah melalui shalat karena pada dasarnya shalat adalah ibadah inti untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Adapun pesan moral atau maqashid yang terkandung dalam ibadah shalat diantaranya;

Pertama, Shalat mengajarkan manusia untuk disiplin dan menghargai waktu  sehingga manusia tidak larut dalam kesibukan duniawi bagi seseorang yang menyadari substansi dari shalat

Kedua, mengandung nilai-nilai kebersihan, shalat hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang suci dari segala bentuk kotoran atau najis, tak sebatas kebersihan fisik melainkan kebersihan hati, sehingga senantiasa dapat menjaga dirinya dari hal-hal kotor (perbuatan dosa) yang tidak disenangi Allah.

 Ketiga, menjadikan diri fokus, dan tidak bermain-main ketika ingin melakukan kebaikan apalagi berhadapan langsung dengan Tuhan, mengusahakan untuk bisa khusyu’ ketika mendirikan shalat. Sehingga menjadikannya hamba yang beruntung (lihat : QS; al-Mu’minun 23:2)

Keempat, mengandung nilai-nilai kebaikan dimana setiap bacaan dari shalat adalah doa, sehingga bisa diimplementasikan dalam perbuatan sehari-hari, ketika dilaksanakan dengan sepenuh hati dapat mencegah dari perbuatan mungkar sebagaimana yang telah dijelaskan Allah dalam firman-Nya (al-Ankabut;45). dalam artian bahwa shalat mampu mengekang diri seseorang dari perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain,berusaha menghindari perbuatan yang berpotensi akan keburukan, sehingga tercipta kedamaian serta suasana kondusif dalam bermasyarakat.

Kelima, mencakup nilai-nilai kebersamaan ketika shalat berjamaah, tidak boleh membeda-bedakan satu sama lain karena setiap manusia itu sama dihadapan Allah,  ibadah shalat tidak memandang status sosial seseorang antara si miskin dan si kaya dsb, dalam artian setiap muslim sama-sama wajib melaksanakan perintah Allah.

Jadi shalat bukan hanya sebagai ritual formal belaka dengan gerakan-gerakan dimulai takbir hingga salam, bukan sekedar performa fisik melainkan juga perbuatan dari hati mengandung banyak nilai-nilai kebaikan, jika benar-benar berusaha diresapi secara khusyuk, mendalam hingga membekas di hati. tanda seorang mukmin manakala ia khusyuk dalam shalatnya(QS: al-Mu’minun ayat 1-2).Wallahu a’lam.

   

 

 


Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia


Bagikan :
Penulis
Foto User
Saipul Hamzah

(hamzahsaipul77@gmail.com)

Ad