Merehabilitasi Pemikiran Memahami Alquran

Nasaruddin Umar menebarkan inspirasi dari Abdullah Darraz, seorang ahli tafsir yang mengibaratkan Alquran sebagai “intan” yang setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut lainnya. Darimanapun orang melihatnya, dia akan mendapatkan cahaya tersendiri yang berbeda-beda. Boleh jadi, cahaya yang dilihat oleh orang lain disebuah sudut lebih banyak dilihat daripada cahaya yang kita dapat dari sudut yang kita lihat. Oleh itu, penafsiran Alquran bisa bermacam-macam. Itulah menjadi salah satu sebab alangkah banyaknya aneka pendapat terkait dengan Alquran.

Pada masa lalu, ulama-ulama mencoba mencari dan menelaah berbagai kandungan Alquran baik dari kandungan makna maupun kandungan ilmu. Al-Qadhi Abu Bakar Ibnu Arabi dalam kitabnya “Qanun at-Takwil” sebagaimana dikutip oleh Imam Sayuthi dalam “Al-Itqan” mengatakan bahwa ilmu-ilmu yang terdapat dalam Alquran berjumlah 77.450 (Tujuh Puluh Tujuh Ribu Empat Ratus Lima Puluh). Hasil dari jumlah kalimat yang ada dalam Alquran dikalikan empat karena setiap kalimat ada empat sisi pengertian yaitu makna lahir dan makna batin, kemudian ada “hadd” (batas makna yang dikehendaki Allah), dan “mathla’” (batas makna yang dikehendaki Allah dan setiap makna yang sukar dipahami ada tinjauan maknanya yang bisa diketahui). Belum lagi Jika dilihat hubungan antara ungkapan dalam Alquran.

Al-Ghazali dalam kitabnya “Ihya’” dan “Jawahir Alquran” menukil dari sebagian ulama seperti di atas, tapi jumlahnya 77.200 (Tujuh Puluh Tujuh Ribu Dua Ratus) ilmu sesuai dengan jumlah kalimat Alquran. Kemudian jumlah tersebut jika dikalikan empat pasti berjumlah lebih banyak lagi.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Jika Aku mau, Aku bisa menafsirkan surah Al-Fatihah sebanyak 70.000 (Tujuh Puluh Ribu) tumpukan lembaran di atas punggung unta. Dalam riwayat lain diungkapkan dalam kitab “ianatuthalibin” tumpukan lembaran tersebut untuk menafsirkan “bismillahirrahmanirrahim”, pada riwayat lain tumpukan itu menafsirkan makna huruf “ba” pada lafal basmalah saja.  Ungkapan imam Ali di atas menunjukkan betapa luasnya cakupan ilmu-ilmu yang ada di dalam Alquran.

Al-Ghazali juga menukil dari sebagian ulama lain, yang menyatakan bahwa setiap ayat mempunyai 60.000 (Enam Puluh Ribu) pemahaman, dan yang masih belum diketahui lebih banyak lagi. Ada sebuah buku yang berjudul “Mukjizat Huruf-hurur Al-Qur’an” ditulis oleh Didik Suharyo, buku yang mencoba mencari dan menemukan karakteristik huruf-huruf Alquran dengan menggunakan peta konsep pada setiap huruf dicontohkan bahwa huruf “sin” mempunyai makna: getaran, pancaran, radiasi, pendar, spektrum, spout, suara atau bermakna sebuah pelaksanaan.

Berbagai ulasan tersebut, nyata bahwa pemikiran manusia terkait dengan memahami Alquran perlu dilakukan rehabilitasi pemahaman. Ulama-ulama terdahulu telah mencontohkan bahwa satu huruf saja bisa dipahami secara multiinterpretasi. Sehingga saat ini tidaklah menjadi sebuah legitimasi yang memunculkan kisruh dari merasa paling benar dalam memberikan pemahaman dan penafsiran Alquran.

Sebagai manusia harus saling mengayomi dan mengerti satu sama lain. Lahirlah sebagai generasi muslim yang toleran dan moderat dalam menebarkan pemahaman Alquran. Tidak hanya itu Alquran mengajarkan manusia saling menghargai satu sama lain walaupun berbeda pemahaman agama. Pada konsep “lakum diinukum wa liyadiin” yakni untukmu agamamu dan untukku agamaku.

Kehidupan menjadi semakin harmonis jika wawasan beragama, berbangsa dan bernegara luas.

 


Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia


Bagikan :
Penulis
Foto User
Dr. Muhammad Asriady, S.Hd., M.Th.I.

(muhammadasriady@gmail.com)

Ad