Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Globalisasi Sufi Dancing (2)
Usai melakukan tarian sufi, mereka duduk terpaku di tempat semula sambil
tafakkur. Seolah-olah seluruh sel dalam tubuhnya juga ikut tafakkur merasakan
nikmatnya cinta sejati Tuhan. Selang beberapa menit mereka kembali mengenakan
jubah hitam lalu melakukan penghormatan terakhir kepada Syekh sambil berbaris
meninggalkan tempat pertunjukan yang diiringi oleh warna musik. Semua ikut
terharu dan sebagian di antara para pengunjung tidak tahan menahan air mata
haru. Meskipun para penari sufi sudah masuk ke dalam biliknya tetapi para
pengunjung seakan masih terpaku di tempat duduk mereka, terkesima dengan
penampilan lagu dan tari sufi Jalaluddin Rumi yang di Konya dikenal dengan Sema.
Penulis sempat berbincang dengan salah seorang di antara para
anggota tim penari Sema. Pengalaman pertama menjadi penari sufi dilatih dengan
kedisiplinan dan sejenis pemberkahan dari Syekh dengan sejumlah pantangan.
Menjelang melakukan tarian ia terlebih dahulu harus membersihkan diri dari
kotoran fisik dan psikis, diawali dengan shalat-shalat sunnah kemudian
bertafakkur. Dengan prosessing awal itu maka seorang penari seolah mempunyai
energi batin untuk sanggup berputar seperti gasing berjam-jam tanpa gangguan
fisik, seperti muntah atau pusing. Sebaliknya, menurut pengakuannya, ia bahkan
lebih sehat dan tenang seusai melakukan tarian itu. Jika ada di antara penari
sufi yang jatuh atau muntah maka oleh Syekh diminta untuk memotong hewan untuk
dikurbankan kepada fakir miskin, namun amat jarang yang terjatuh sepanjang para
penari melakukan prosessing awal dengan baik.
Sebelum
acara dimulai, diawali oleh pembacaan riwayat hidup Jalaluddin Rumi sekaligus
mengingatkan secara batin kedikjayaan sufi besar itu kepada tim pemusik dan tim
penari serta para penonton. Ribuan penonton yang menduduki gedung yang mirip
bangunan stadion mini terdiam bisu. Para penonton diminta untuk mematikan HP
dan tidak diperkenankan membawa makan dan minuman. Ketika tarian di mulai,
tidak sedikit di antara para pengunjung histeris dan bahkan tidak sadarkan diri.
Antisipasi panitia yang cukup berpengalaman maka sesegera mungkin orang itu
didekati dan didiamkan supaya kekhusyukan terpelihara.
Di luar gedung utama terdapat juga beberapa gedung lain yang
berisi museum, perpustakaan, dan semacam diorama. Di kota Konya sendiri
terdapat berbagai bangunan bersejarah peninggalan kerajaan Salyuk di abad
ke-11, seperti beberapa masjid dan istana yang dirawat dengan baik. Tidak heran
kalau kota Konya menjadi sasaran turis kedua setelah kota Istanbul. Di sekitar
kota Konya juga ada sejumlah kota penting lain seperti Kaisary, perjalanan 4
jam dengan naik mobil yang juga menyimpan peninggalan sejarah, seperti Rumah
Sakit pertama di dunia yang dibangun di abad ke 12. Di dekat kota ini juga
terdapat bangkai perahu Nabi Nuh.
Turki memang
layak untuk dikunjungi oleh wisatawan muslim. Di Istanbul, selain menyuguhkan
pemandangan indah yang terkenal dengan selat Bosporunya, dengan jembatan yang
menghubungkan Asia dan Eropa, juga kota ini menyimpan sejumlah peninggalan
berharga. Di antaranya rambut, jenggot, dan peralatan perang Nabi, seperti
pedang, salah satu mushaf Quran yang diyakini mushaf Utsmani, masih tersimpang
rapi di museum Istambul. Ruang khusus ini dibacakan Al-Quran non-stop secara
bergiliran oleh para Qari. Musium ini sendiri semula sebagai istana kerajaan
Turki Utsmani yang letaknya sangat indah, menghadap ke Bosporus. Di kota ini
juga terdapat 8 maqam sahabat Nabi, di antaranya Muhammad Al-Anshari yang
rumahnya dijadikan rumah pertama yang disinggahi unta Nabi ketika Nabi hijrah
ke Madina. Setelah Rasulullah wafat, Al-Anshari melakukan misi dakwah ke
Istanbul dan syahid di kota ini.
Islam sufistik, kelihatannya akan berkembang luas di Turki. Bahkan ada
yang membayangkan Islam spiritual ala perspektif Jalaluddin Rumi akan menggantikan
era new age yang kini sudah tidak lagi trend di Barat. Islam sufistik ini juga
sedang menggejala di beberapa negara Islam, tidak terkecuali di Indonesia.
Fenomena jamaah zikir di kota-kota besar Indonesia ternyata bukan hanya
fenomena Indonesia tetapi juga fenomena di kota-kota lain, termasuk di sejumlah
kota di As dan Eropa. Islam sufistik ini dibiarkan berkembang dan disukai di
banyak kalangan karena tidak menampilkan wajah Islam yang garang dan keras.
Tidak juga memperhadap-hadapkan diri dengan ajaran atau agama lain, tetapi
lebih bersifat akomodatif dan lebih inklusif. Akankah wajah Islam seperti ini
dominan di masa depan dunia Islam, kita lihat saja nanti.
Sumber: detik.com
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia






















