Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Antara Dekadensi & Pembengkakan Kualitas
Globalisasi yang semakin tak terbendung melahirkan berbagai perubahan
sosial keagamaan di dalam masyarakat. Tentu saja ada yang pesimis dan ada yang
optimis menanggapi perubahan tersebut. Setidaknya ada tiga golongan yang
merespon persoalan ini. Pertama kelompok yang optimistik menganggap perubahan
sosial adalah sebuah keniscayaan Islam dan umat Islam tidak perlu dikhawatirkan
karena Islam memang sebagai agama akhir zaman yang harus mampu menerobos
keunikan zaman yang dilaluinya. Kedua. Kelompok yang pesimistik, yang cemas
jika tidak segera dilakukan proteksi dan jihad (dalam konotasi eksklusif, maka
Islam dan umat Islam sangat terancam. Kelompok inilah yang melancarkan berbagai
strategi yang dikesankan sebagai kelompok radikal, bahkan teroris. Kelompok
ketiga, kelompok moderat. Dalam hal tertentu memang harus dilakukan pembenahan
dan pembinaan umat sesuai dengan perkembangan yang ada tetapi secara umum tidak
menganggap keadaan terakhir sudah sangat genting Kelompok ini merekomendasikan
perjuangan kritis dengan meninggalkan cara-cara kekerasan.
Perkembangan kehidupan masyarakat seolah muncul dua sikap. Pertama
kelompok yang pesimistik menilai perkembangan masyarakat mengalami stagnan
bahkan dekaden. Hal ini ditandai lahirnya masyarakat yang cenderung
meninggalkan tata karma dan keadaban publik. Kedua, kelompok yang optimis
beranggapan yang terjadi di dalam masyarakat bukan sesuatu yang stagnan
sehingga mengharuskan kita pesimistik, akan tetapi yang terjadi sesungguhnya
ialah pembengkakan kualitas umat, sehingga daya kritis mereka semakin
berkembang.
Pencapaian
indeks kualitas hidup rata-rata bangsa Indonesia semakin bagus yang ditandai
peningkatan angka pertumbuhan berbagai penilaian bangsa yang mengesankan.
Indonesia termasuk Negara G-21 dengan skala pertubuhan ekonomi sekitar 5%, di
samping angka pengangguran yang cenderung terkoreksi secara positif.
Satu fenomena sering memicu pandangan kritis masyarakat
seolah-olah di kalangan masyarakat terjadi pergeseran nilai. Akhlak dan
kesantunan publik dinilai terjadi stagnan dan dekaden. Dari sisi lain kelompok
ini menampakkan rasa pesimistiknya di dalam mendayuh perjalanan bangsa di masa
depan. Mereka menilai bangsa ini sudah mengalami disorientasi dan kehilangan
identitas aslinya. Nilai-nilai luhur budaya dan agama ditenggelamkan oleh
nilai-nilai fragmatisme dan kepentingan jangka pendek. Musyawarah ditentukan
oleh kepentingan dan uang. Dalam dunia suksesi kepemimpinan, baik dalam lingkup
pemimpin formal seperti pemerintahan maupun dalam lingkup swasta dan paguyuban,
di mana-mana uang ikut berbicara. Ironisnya, dalam ormas-ormas keagamaan pun
sering kita mendengarkan faktor uang ikut berbicara dalam even penggantian
pengurus. Kelompok ini mengarahkan kesimpulannya pada tanda-tanda hari kiamat
sudah dekat, sebagaimana disinggung di dalam hadis bahwa tanda-tanda kecil
(shugra) ialah manakala akhlak dan lingkungan hidup masyarakat sudah mengalami
kerusakan parah.
Kelompok
optimistik beranggapan bahwa yang terjadi dewasa ini bukanlah dekadensi moral
secara fatal seperti yang digambarkan tadi. Akan tetapi yang terjadi saat ini
ialah terjadinya pembengkakan kualitas umat dan warga bangsa. Akibatnya budaya
membeo dan yes man sudah mulai ditinggalkan orang. Mereka membedakan secara kritis
antara dekadensi moral dan pembengkakan kualitas umat.
Yang terjadi di dalam masyarakat kita bukan krisis keadaban publik tetapi meningkatnya daya kritis masyarakat sebagai akibat dari peningkatan kualitas pendidikan yang berbanding lurus terbukanya kebebasan berpendapat di dalam masyarakat. Pandangan kritis yang disampaikan seseorang atau kelompok orang tidak mesti harus diartikan sebagai ketidakberadaban. Situasi batin dan mental sebagian di antara kita yang belum bersedia menerima perubahan drastis ini.
Sumber: detik.com
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia






















