Antara Epistemologi Sains dan Agama
Seolah-olah dua kutub yang berbeda jika kita berbicara tentang epistemologi sais dan epistemologi agama. Dalam mengungkapkan kebenaran, epestemologi sains berangkat dari keraguan (skeptis) lalu mengumpulkan fakta dan data yang berhubungan dengan ontologi yang dijadikan obyek. Fakta, data, dan postulat yang telah dikumpulkan dianalisis, diverifikasi, dan diklasifikasi, lalu disusun asumsi-asumsi yang berhubungan dengan hipotesis yang telah telah ditetapkan sebelumnya. Jika hipotesis itu sesuai dengan pembuktian biasanya dilanjutkan dengan check dan recheck sampai betul-betul pengujiannya tidak memiliki jarak dan ketidaksesuaian antara asumsi dan pembuktian. Jika kesimpulan sudah matang maka proses selanjutnya ialah peneliti mendeklarasikan atau memublikasikan temuan itu media atau jurnal ilmiah untuk mendapatkan umpan balik dari kalangan ilmuan, apakah setuju atau membantah asumsi itu.
Sebagai contoh, ada asumsi bahwa segala benda yang diberi padas akan menuai. Ada sebuah baut besi dibuka dan diberi panas tertentu lalu dipasang lagi ke tempatnya semula, ternyata baut itu tidak bisa masuk karena sudah membesar. Benda lain dicoba lagi dengan percobaan serupa ternyata hasilnya semuanya sama. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa semua benda yang dipanasi akan mengembang adalah benar secara sains.
Sebaliknya epistemologi agama berangkat dari sebuah keyakinan yang kokoh. Dari keyakinan itu dikumpulkanlah bahan-bahan dan postulat untuk membuktikan keyakinan itu. Jika bahan-bahan dan postulat itu sesuai dengan keyakinan yang dideklarasikan agama maka kepuasan dan kelegaan spiritual dan intelektual dicapai. Ujian dan check dan recheck juga dilakukan tidak untuk menggugurkan keyakinan tetapi lebih untuk menambah keyakinan dari yang tadinya 'ilmul yaqin menjadi 'ainul yaqin, dan seterusnya menjadi haqqul yaqin.
Sebagai contoh, agama mendeklarasikan adanya Tuhan, lalu diadakanlah analisis terhadap berbagai bukti adanya Tuhan. Akhirnya setelah dilakukan berbagai pembuktian maka dicapai kesimpulan bahwa memang Tuhan benar-benar ada. Dengan demikian, keyakinan bahwa Tuhan itu ada membuat penganutnya semakin yakin akan kebenaran agama.
Pertanyaan muncul, apakah konsep kebenaran sains selalu seirama dengan konsep kebenaran agama? Atau sebaliknya, apakah konsep kebenaran agama selalu seirama dengan konsep kebenaran sains. Dalam masa positivisme segala sesuatu harus diukur dengan epistemologi logika dan hasilnya ada sejumlah postulat keagamaan yang tidak klop dengan teori ilmiah. Akibatnya kalangan positivisme banyak menolak agama. Hal kebalikannya juga pernah terjadi, penolakan sains, bahkan pembunuhan saintis, karena temuannya dianggap melecehkan agama, yang dimaknai pelecehan terhadap Tuhan.
Sumber : detik.com
Untuk saudara - saudara yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan pesantrenpedia dapat mengirimkan donasinya ke : https://saweria.co/pesantrenpedia






















